Dinkes Jakarta Konfirmasi Empat Kasus Hantavirus, Satu Pasien Masih dalam Isolasi

- Selasa, 12 Mei 2026 | 01:50 WIB
Dinkes Jakarta Konfirmasi Empat Kasus Hantavirus, Satu Pasien Masih dalam Isolasi

PARADAPOS.COM - Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta melaporkan empat kasus hantavirus ditemukan di ibu kota sepanjang tahun 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien telah dinyatakan sembuh setelah mengalami gejala ringan, sementara satu orang lainnya masih berstatus suspek dan menjalani isolasi ketat. Kepala Dinkes Provinsi Jakarta, Ani Ruspitawati, menegaskan bahwa temuan ini bukanlah wabah baru dan virus tersebut telah lama dipantau oleh pihaknya.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Ani Ruspitawati di hadapan anggota DPRD Provinsi Jakarta pada Senin (11/5/2026). Ia menjelaskan secara rinci kondisi terkini para pasien serta langkah-langkah yang telah diambil oleh pihak berwenang.

Empat Kasus Terkonfirmasi, Satu Masih dalam Pengawasan

"Sepanjang 2026 sampai sekarang ini ada empat kasus yang sudah kita temukan. Tiga orangnya sudah sembuh, bergejala ringan, satu orangnya sekarang masih suspek," ujarnya di DPRD Provinsi Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ani menambahkan bahwa satu pasien yang masih berstatus suspek tersebut tengah menjalani isolasi. Langkah ini diambil karena hantavirus termasuk dalam kategori penyakit menular yang memerlukan penanganan khusus.

Bukan Virus Baru, Sudah Dipantau Sejak Lama

Dalam kesempatan yang sama, Ani menekankan bahwa hantavirus bukanlah virus baru seperti Covid-19. Menurut penjelasannya, virus ini sudah lama dikenal dan selalu menjadi salah satu prioritas pemantauan oleh Dinkes Provinsi Jakarta. Ia juga memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti penularan dari manusia ke manusia di Indonesia.

"Sejauh ini ada banyak varian hantavirus tuh ada banyak varian. Ada yang menular antarmanusia, ada yang tidak. Yang menular antarmanusia hanya satu varian sampai saat ini dari penjelasan WHO, hanya yang Andes yang ditemukan di Amerika Selatan, dan Andes ini tidak ada, sampai sejauh ini ya, tidak ada di Indonesia," kata Ani.

Ia menjelaskan, penularan virus ini umumnya terjadi melalui air liur, air seni, atau kotoran tikus yang kemudian terpapar pada manusia. Ani juga membantah rumor yang mengaitkan kasus ini dengan penularan dari kapal pesiar.

Imbauan Waspada Tanpa Panik

Meski situasi masih terkendali, Ani mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ia secara khusus meminta warga untuk menggunakan alat pelindung diri, seperti masker, ketika beraktivitas di tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang tikus.

"Yang penting sebetulnya tidak perlu panik, tapi waspada. Yang penting adalah bagaimana kita menjaga pola hidup yang bersih, sehat, dan harus cuci tangan, pakai masker ketika memang kita perkirakan kita ada di tempat-tempat yang berisiko, memakai pengaman, dan kemudian mungkin nanti berikutnya bagaimana kita melakukan pengendalian terhadap tikus gitu," tuturnya.

Data Nasional: 23 Kasus dalam Tiga Tahun

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mencatat akumulasi kasus hantavirus di tingkat nasional. Sepanjang periode 2024 hingga 2026, total ada 23 kasus konfirmasi positif yang ditemukan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, yang berarti tingkat kematian kasus atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 13 persen.

"Kasus konfirmasi yang ditemukan merupakan penyakit Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus," jelas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam pernyataan resmi yang dikutip pada Senin (11/5/2026).

Sebaran Kasus di Berbagai Wilayah

Penyebaran kasus hantavirus tercatat di sejumlah wilayah di Indonesia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing enam kasus. Jawa Barat menyusul dengan lima kasus. Sementara itu, Banten, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara masing-masing melaporkan satu kasus.

Virus hanta sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus atau celurut kepada manusia. Kemenkes mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang meningkatkan potensi penularan.

Faktor Risiko dan Kelompok Rentan

Risiko tinggi ditemukan pada pekerjaan yang berkaitan dengan kontak langsung dengan tikus. Kelompok ini meliputi petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja laboratorium yang menangani reservoir virus.

Selain itu, aktivitas di area berisiko seperti gudang lama, area terbengkalai, dan ruang bawah tanah juga disebut dapat meningkatkan potensi paparan. Wilayah dengan populasi tikus tinggi dan curah hujan tinggi turut menjadi faktor risiko penyebaran penyakit ini.

"Faktor risiko selanjutnya adalah kontak dengan sumber infeksi saat melakukan aktivitas hobi maupun wisata, seperti mendaki gunung dan berkemah," demikian pernyataan resmi Kemenkes.

Langkah Pencegahan yang Direkomendasikan

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk tetap menjalankan protokol kesehatan secara konsisten. Langkah-langkah tersebut mencakup rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.

Masyarakat juga diminta untuk menghindari kontak langsung dengan rodensia atau ekskresi dan sekresinya. Menjaga kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja menjadi krusial, begitu pula dengan menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi dari tikus. Selain itu, warga diminta menutup seluruh lubang di dalam maupun luar rumah guna mencegah rodensia masuk ke area hunian.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit virus hanta, seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise, batuk, dan sesak napas.

Sejarah Panjang Hantavirus di Indonesia

Di Indonesia, virus ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak era 1980-an. Temuan awal terkonsentrasi di pelabuhan-pelabuhan di beberapa kota besar, seperti Cilacap, Makassar, Batam, Semarang, dan Jakarta. Karena saat itu hanya ditemukan di area pelabuhan yang relatif jarang dihuni manusia, keberadaan virus ini belum menimbulkan kekhawatiran yang signifikan.

Namun, penemuan terbaru menunjukkan perubahan pola yang mengkhawatirkan. Tikus-tikus pembawa virus ini sudah mulai memasuki permukiman penduduk. Salah satu varian, yaitu virus Seoul, terbukti telah menjangkiti tikus-tikus di Kepulauan Seribu. Meskipun belum ada laporan pasti tentang penularan kepada manusia di lokasi tersebut, ada kekhawatiran bahwa virus ini mungkin berperan dalam wabah demam berdarah yang melanda beberapa pulau di sana pada Juli 2009 silam.

Jejak Global Hantavirus

Menurut data Puslitbang Kesehatan, hantavirus mulai mendapat perhatian dunia pada tahun 1951. Saat itu, virus Hantaan (HTNV), salah satu variannya, mewabah di kalangan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan. Lebih dari 2.000 personel pasukan Amerika Serikat tertular kala itu, dan sebagian di antaranya meninggal dunia.

Dari peristiwa tersebut, hantavirus dengan berbagai variannya mulai menyebar ke seluruh dunia. Jalur pelayaran diduga menjadi perantara utama penyebarannya. Di Asia, hantavirus mengambil bentuk sebagai virus Hantaan dan Seoul (SEOV). Sementara di Eropa, virus ini muncul sebagai virus Puumala (PUUV), Dobrova (DOBV), dan Saremaa (SAARV).

Gejala dan Tingkat Kematian

Gejala dari seluruh varian hantavirus pada dasarnya serupa, yaitu berupa serangan demam berdarah dengan sindrom ginjal (renal). Demam tinggi akan menyerang manusia yang tertular, diikuti dengan sakit kepala dan nyeri perut. Gejala ini nyaris serupa dengan demam berdarah dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Bila tidak ditangani dengan segera, gagal ginjal dapat menyusul dan berujung pada kematian.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1982 tentang demam berdarah dengan sindrom ginjal memperlihatkan angka kematian yang tidak bisa dianggap remeh. Persentase kematian akibat virus ini berkisar antara lima hingga 15 persen. Angka ini jauh di atas tingkat kematian akibat virus flu A-H1N1 atau flu Meksiko yang hanya sekitar 0,8 persen.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags