Efisiensi Energi PGE Melonjak 126 Persen di 2025, Dukung Target NZE Indonesia

- Kamis, 14 Mei 2026 | 13:00 WIB
Efisiensi Energi PGE Melonjak 126 Persen di 2025, Dukung Target NZE Indonesia
PARADAPOS.COM - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan lonjakan efisiensi energi hingga 90.502,28 MWh sepanjang tahun 2025, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 40.058,77 MWh. Pencapaian ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui pengembangan energi panas bumi rendah karbon. Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan secara konsisten menjadi fondasi penting untuk memastikan pengembangan panas bumi tetap andal, efisien, dan kompetitif. Seluruh implementasi keberlanjutan perusahaan dilakukan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global. Andi menambahkan bahwa semua proses telah diverifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000.

Efisiensi Operasional Jadi Kunci

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, peningkatan efisiensi energi PGE didorong oleh optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP). Langkah-langkah teknis yang diterapkan antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu, yang memungkinkan sumur bertekanan rendah tetap bisa masuk ke sistem produksi. Di samping itu, perusahaan juga mengoptimalkan vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk menekan konsumsi internal listrik. Modifikasi hand control valve di Lumut Balai turut dilakukan guna mengurangi pembuangan uap ke rock muffler. Semua ini adalah upaya teknis yang berjalan di lapangan. PGE juga mulai memperluas pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kini dipasang di sejumlah fasilitas operasi dan perkantoran. Langkah ini diambil agar pemanfaatan listrik dan uap panas bumi bisa lebih optimal dalam mendukung sistem ketenagalistrikan nasional. Sepanjang 2025, rasio intensitas energi PGE tercatat sebesar 0,037 MWh/MWh, turun sekitar 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio ini menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan energi perusahaan terus meningkat. Sementara itu, porsi penggunaan energi terbarukan dalam kegiatan operasional tetap terjaga tinggi, mencapai 94,36 persen.

Emisi Tetap Rendah, Hindari 4,29 Juta Ton CO2e

Dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh. Angka ini masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam EU Taxonomy maupun Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, yaitu 100 g CO2e/kWh. Capaian tersebut menegaskan bahwa operasional panas bumi perusahaan masih berada dalam kategori energi rendah karbon. Sepanjang 2025, kapasitas operasi panas bumi PGE berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pengembangan panas bumi memiliki dampak langsung terhadap pengurangan emisi nasional.

Perkuat Pengelolaan Limbah dan Efisiensi Air

Tak hanya fokus pada energi dan emisi, PGE juga memperkuat pengelolaan limbah non-B3 melalui pendekatan 4R: Reduce, Reuse, Recycle, Recovery. Pada 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola mencapai 17 ton, meningkat sekitar 24,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengelolaan tersebut dilakukan melalui konsep waste circularity dengan melibatkan bank sampah dan tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar area operasional perusahaan. Limbah kemudian dipilah, digunakan kembali, didaur ulang, hingga diolah menjadi kompos bersama masyarakat sekitar. Sementara itu, konsumsi air perusahaan juga mengalami penurunan signifikan. Pada 2025, penggunaan air tercatat turun 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter, dibandingkan 393,23 megaliter pada tahun sebelumnya.

Dorong Green Hydrogen dan Green Data Center

Komitmen dekarbonisasi PGE juga diwujudkan lewat pengembangan bisnis beyond electricity, termasuk pengembangan ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah Tanjung Sekong Green Terminal, yang memanfaatkan green hydrogen untuk mendukung kebutuhan energi terminal LPG di Cilegon. Perusahaan juga membuka peluang pemanfaatan panas bumi untuk pengembangan industri hijau lainnya, termasuk green data center berbasis energi bersih rendah emisi. Sebagai sumber energi baru terbarukan, panas bumi dinilai memiliki peran strategis karena mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik tersebut menjadikan panas bumi sebagai salah satu tulang punggung penting dalam mendukung transisi energi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar