PARADAPOS.COM - Sebuah dugaan pemalsuan riset asal Indonesia mencuat di ajang International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Kasus ini pertama kali diungkap oleh epidemiolog Indonesia, Wa Ode Dwi Diningrat, yang hadir sebagai perwakilan Oxford University. Temuan ini memicu perbincangan luas di media sosial dan menjadi sorotan publik.
Kecurigaan Berawal dari Presentasi Rekan
Kecurigaan Dwi bermula ketika seorang koleganya mengajak menghadiri presentasi dua peserta asal Indonesia yang menggunakan nama samaran “Dimas” dan “Riana”. Awalnya, ia hanya membaca ringkasan penelitian atau abstrak secara singkat. Namun, setelah mempelajari kembali isi penelitian tersebut, ia menemukan sejumlah kejanggalan.
Ia kemudian berdiskusi dengan sesama peneliti dan supervisornya terkait grafik serta data yang digunakan. “Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ujarnya.
Keanehan Data dan Identitas Pembicara
Salah satu poin yang paling menimbulkan tanda tanya adalah klaim pengambilan data primer di kawasan Pegunungan Andes, Peru, tanpa melibatkan peneliti maupun institusi lokal. Menurut Dwi, praktik semacam itu hampir mustahil dilakukan dalam penelitian internasional yang kredibel.
Tidak hanya isi penelitian, identitas pembicara dalam presentasi tersebut juga menimbulkan kecurigaan. Dalam satu sesi, seorang perempuan mempresentasikan riset berjudul “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities” dengan nama “Riana Dwi Kurniawati”.
Namun, sekitar 10 menit berselang, perempuan yang sama kembali tampil di sesi lain dengan identitas berbeda setelah mengganti jilbab. Kali ini, ia disebut sebagai “Dimas Fajar Prasetyo” dan membawakan penelitian berjudul “AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities”.
Menurut Dwi, perempuan tersebut bahkan memperkenalkan dirinya kepada peserta lain dengan nama “Dimas”. Belakangan diketahui sosok perempuan itu bernama Prihantini. Meski demikian, nama Prihantini justru tidak tercantum dalam daftar penulis pada dua penelitian yang ia presentasikan.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
National Gallery Singapore: Perpaduan Seni Modern Asia Tenggara dan Arsitektur Klasik di Gedung Bersejarah
Terapis Spa di Surabaya Didakwa Gelapkan Uang Pelanggan Rp1,2 Miliar, Habiskan Hasil Curian untuk Hotel Mewah
Pemerintah Tetapkan Dua Hari Libur Nasional pada Juni 2026, Tanpa Cuti Bersama
Tim Penyelamat Gabungan Laos-Thailand Temukan Lima dari Tujuh Pencari Emas yang Terjebak di Gua Xaisomboun