PARADAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mendorong warganya untuk mulai membiasakan diri mengonsumsi pangan alternatif pengganti beras. Langkah ini diambil sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pokok, mengingat potensi besar hasil pertanian hortikultura dan palawija di daerah tersebut. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bapperida Kabupaten Lebak, Widy Ferdian, menyampaikan imbauan ini pada Kamis, 28 Mei 2026, dengan menekankan nilai gizi tinggi dari bahan pangan non-beras.
Angka Ketergantungan yang Tinggi
Data menunjukkan bahwa sekitar 94 persen dari total 1,4 juta jiwa penduduk Kabupaten Lebak masih sangat bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Ironisnya, daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan terbesar di Banten ini justru memiliki produksi hortikultura dan palawija yang melimpah. Singkong, jagung, pisang, ganyong, talas, kacang tanah, hingga ubi jalar adalah beberapa komoditas yang tumbuh subur di sana.
“Kita minta warga tidak hanya ketergantungan konsumsi beras saja, tetapi bisa dengan pertanian pangan hortikultura dan palawija,” ujar Widy Ferdian.
Dampak Fluktuasi Harga Beras
Ketergantungan yang tinggi ini membuat daya beli masyarakat rentan goyah. Jika harga beras naik sebesar Rp1.000 per kilogram saja, dampaknya langsung terasa di tingkat rumah tangga. Padahal, potensi hasil bumi non-beras di Lebak sangat besar dan bisa menjadi penopang pangan yang lebih stabil.
Produksi tanaman pangan hortikultura dan palawija di wilayah tersebut tercatat mampu mencapai ratusan ribu ton setiap tahunnya. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya beralih.
Hasil Panen Lebih Banyak ke Luar Daerah
Saat ini, sebagian besar hasil panen hortikultura dan palawija milik petani justru dijual ke luar daerah. Akibatnya, potensi pengolahan pangan lokal belum dimaksimalkan. Padahal, bahan-bahan seperti singkong, ubi, atau pisang bisa diolah menjadi beragam makanan bernilai jual tinggi dan bergizi.
Mulai dari bolu, lapis, getuk, roti, hingga keripik, semuanya bisa dihasilkan dari komoditas lokal ini. Cita rasanya pun tidak kalah lezat, dengan kandungan gizi yang justru lebih kaya.
Sosialisasi B2SA dan Target 2026
Untuk mengubah kebiasaan ini, Dinas Ketahanan Pangan Lebak gencar melakukan sosialisasi program Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA). Pada tahun 2026, program ini menyasar berbagai kelompok masyarakat. Targetnya meliputi 30 orang kader PKK Desa di tujuh desa, 30 kader posyandu, 30 anggota PKK kecamatan, 30 ibu balita, serta 100 siswa dari masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA di tiga sekolah berbeda.
Tujuan dari sosialisasi ini adalah membudayakan pola makan sehat dan seimbang demi mewujudkan generasi yang aktif, sehat, dan produktif. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi bergantung pada satu jenis pangan pokok saja.
“Kami berharap warga bisa mengganti makanan pokok dari beras ke hortikultura dan palawija,” jelasnya.
Langkah Konkret di Lapangan
Upaya ini tidak berhenti pada sosialisasi. Dinas Pertanian Lebak juga memperluas demplot jagung pulut dan singkong mentega di Kecamatan Maja, Cikulur, dan Cileles. Lahan kering seluas 5.000 hektare digunakan untuk pengembangan tanaman alternatif ini. Selain itu, pasar tani digelar setiap hari Kamis, menjajakan aneka sayuran lokal, buah-buahan, umbi-umbian seperti singkong dan ubi jalar, serta jagung manis dan jagung ungu.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Lebak turut berpartisipasi dengan sosialisasi “Isi Piringku”. Program ini menekankan pentingnya variasi asupan makanan, tidak hanya nasi, tetapi juga karbohidrat lain, protein, sayur, dan buah. Sosialisasi ini menyasar 1.143 remaja putri dari tingkat SMP dan SMA, yang berasal dari dua sekolah di tingkat kabupaten dan delapan sekolah di tingkat kecamatan. Kegiatan ini dilaksanakan satu kali dalam setahun.
“Kami berharalo dengan sosialisasi itu ke depan masyarakat bisa mengembangkan aneka makanan yang memiliki varian dan bergizi, selain beras,” pungkasnya.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
17 Sekolah di Manokwari Terima Revitalisasi Rp10,6 Miliar, Anggaran Turun Dibanding 2025
Polres OKU Timur Salurkan 1.948 Paket Sembako untuk Lansia dan Warga Kurang Mampu
Pemerintah Kota Tangerang Siapkan Lahan 5 Hektare untuk Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik
Analis: Blusukan Jokowi Tak Berdampak Elektoral bagi PSI dan Gibran