PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian kunjungan kenegaraan ke Prancis, termasuk pada momen Idul Adha 1447 Hijriah. Kritik tajam muncul dari warganet yang mengungkit kembali unggahan lama Prabowo di media sosial, di mana ia pernah menyebut perjalanan dinas ke luar negeri sebagai pemborosan anggaran negara. Hingga saat ini, tercatat sudah empat kali Prabowo melawat ke Prancis sejak resmi menjabat, dengan agenda utama memperkuat kerja sama bilateral, realisasi transaksi alutsista, dan pembahasan ekonomi makro.
Kritik Warganet dan Cuitan Lama yang Kembali Viral
Seorang pengguna akun X dengan nama @Opposite6888 menyoroti kontradiksi antara pernyataan Prabowo di masa lalu dengan tindakannya kini. Dalam cuitan yang diunggah pada Jumat (29/5), ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang tanda-tanda orang munafik, lalu menyematkannya pada unggahan lama Prabowo.
“Tanda orang munafik ada 3: 1. Jika berbicara ia berdusta, 2. Jika berjanji ia ingkar, 3. Jika dipercaya ia khianat” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan ini sekarang terjadi pada @prabowo,” tulisnya.
Cuitan itu sontak memicu perdebatan di linimasa. Banyak yang membandingkan janji kampanye Prabowo dengan realitas pemerintahannya saat ini.
Janji Lama: Anggaran Perjalanan Dinas Rp20 Triliun Harus Dihapus
Pada 28 Februari 2014, saat Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menjabat, Prabowo melontarkan kritik pedas melalui akun media sosialnya. Ia menyebut anggaran perjalanan dinas yang mencapai Rp20 triliun per tahun sebagai bentuk pemborosan.
“14. Anggaran perjalanan dinas: Rp. 20 T per tahun. Ini pemborosan. Harus dicoret. Jika saya presiden, tidak boleh pejabat RI plesiran ke LN,” tulis Prabowo kala itu.
Janji tersebut kini menjadi bumerang. Sejak resmi menjabat sebagai presiden, Prabowo tercatat telah melakukan empat kali kunjungan ke Prancis. Rinciannya, tiga kali pada tahun 2026 dan satu kali pada tahun 2025.
Lawatan Terbaru ke Prancis: Agenda Kenegaraan dan Ekonomi
Terbaru, Presiden Prabowo bertolak ke Prancis pada Senin malam, 25 Mei 2026. Kunjungan kenegaraan ini dijadwalkan untuk bertemu langsung dengan Presiden Emmanuel Macron di Paris.
Agenda utama lawatan ini mencakup penguatan hubungan kerja sama bilateral, realisasi transaksi alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta pembahasan sektor ekonomi makro. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diplomasi luar negeri yang lebih agresif.
Namun, di sisi lain, publik masih menunggu konsistensi antara retorika penghematan yang pernah digaungkan dengan realitas kebijakan yang berjalan.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Enam dari Tujuh Relawan Indonesia Misi Kemanusiaan ke Gaza Tiba di Jakarta Usai Terhenti di Libya
Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia di Atas HET Domestik
Polisi Tunggu Hasil Toksikologi untuk Ungkap Penyebab Kematian Empat Anggota Keluarga di Temanggung
IESR Desak Pemerintah Revisi Aturan Kuota PLTS Atap Demi Kejar Target 100 GW Prabowo