Peringatan 20 Tahun Lumpur Lapindo, Penyintas Gelar Ritual Sambang Buyut di Atas Tanggul

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 01:25 WIB
Peringatan 20 Tahun Lumpur Lapindo, Penyintas Gelar Ritual Sambang Buyut di Atas Tanggul

PARADAPOS.COM - Peringatan 20 tahun semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, diwarnai dengan ritual sambang buyut yang digelar pada Jumat (29/5/2026). Rombongan penyintas dan aktivis lingkungan berjalan kaki dari Taman Dwarakerta menuju titik 21 tanggul penahan lumpur. Aroma gas menyengat dari pusat semburan langsung menyambut kedatangan mereka. Bencana yang terjadi pada 29 Mei 2006 silam ini telah menenggelamkan sedikitnya 19 desa di tiga kecamatan dan memaksa lebih dari 25.000 warga untuk direlokasi. Hingga kini, lumpur panas masih terus menyembur.

Perjalanan Penuh Kenangan di Atas Tanggul

Udara di sekitar tanggul terasa panas dan pengap. Beberapa orang yang datang terlihat menutup hidung dengan tangan atau masker untuk mengurangi bau menyengat. Mereka hadir bukan sekadar untuk berjalan-jalan, melainkan untuk melakukan ritual tahunan yang menjadi pengingat akan kampung halaman yang telah lama hilang.

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merawat luka dan kenangan. Hal ini dirasakan betul oleh Daia (60), warga Desa Renokenongo—salah satu desa yang kini telah terhapus dari peta. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia menunjuk ke arah timur, tempat asap putih masih mengepul dari pusat semburan.

"Di sana, tidak jauh dari pusat semburan, rumah saya dulu. Saya lahir di sana," ujarnya lirih.

Daia lalu bercerita tentang kehidupan di desanya yang dulu. "Kami sangat guyup, sering kumpul-kumpul dan rata-rata kami mempunyai hubungan kekerabatan, rumah kami tidak berjauhan," tuturnya mengenang.

Setelah bencana dan mendapatkan ganti rugi, sebagian warga Renokenongo pindah ke Perumahan Renojoyo di Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong. Nama perumahan itu sengaja diambil untuk mengenang desa asal mereka. Namun, kerinduan tetap saja menganga.

"Saya rindu desa saya yang dulu," ungkap Daia. Di desa itulah ia bisa berkumpul bersama keluarga besar. Di sana pula makam bapak, adik, kakek, dan neneknya kini telah terkubur lumpur. Dulu, ia berjualan sayur-mayur di depan rumah dan dagangannya selalu laris. Kini, setelah relokasi, ia mengaku semakin sulit mencari nafkah. Daia bertahan hidup dengan mengelola warung jajanan kecil di depan rumah sambil mengasuh cucunya.

Ikatan yang Tak Putus di Perumahan Baru

Kisah serupa juga dialami Nurhasanah (46). Ia datang ke acara sambang buyut bersama anaknya, Rayyan (2). Meski sudah tinggal di Perumahan Renojoyo, ia mengaku masih bisa berkumpul dengan beberapa tetangga lamanya. Namun, tidak semua bernasib sama.

"Saya juga rindu tetangga-tetangga yang dulu, kami yang berasal dari Desa Renokenongo masih suka kumpul-kumpul, banyak juga yang pindah entah ke mana," jelasnya.

Di tengah suasana haru, kegiatan sambang buyut juga diisi dengan tawa anak-anak yang bermain dengan riang di atas tanggul. Mereka berlarian tanpa beban, seolah tidak merasakan beban sejarah yang membebani orang tua mereka. Para penyintas duduk bersimpuh, sesekali tertawa melihat tingkah polah anak-anak. Momen itu menjadi pengingat akan masa kecil mereka yang dulu, ketika kampung halaman mereka masih utuh dan penuh suka cita.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar