PARADAPOS.COM - Sebuah video yang memperlihatkan aksi kebut-kebutan di jalan raya baru-baru ini viral di media sosial. Alih-alih mendapat kecaman, warganet justru memaklumi dan melontarkan berbagai guyonan. Bukan balap liar, ternyata aksi tersebut adalah keseharian para pedagang bubur asal Tambun, Bekasi, yang dikenal dengan julukan 'Bubur Racing'. Mereka harus berpacu dengan waktu setiap pagi agar para pekerja di Jakarta sempat sarapan sebelum berangkat, sebuah pemandangan yang unik dan menghibur di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Fenomena Bubur Racing yang Viral
Para pedagang bubur ini mudah dik dikenali dari modifikasi sepeda motor mereka. Gerobak bubur diboncengkan di jok belakang, menciptakan kesan seperti sedang balapan. Muammar Rizky, atau yang akrab disapa Amar, menuturkan kisah di balik fenomena ini. Sabtu (30/5/2026), ia menjelaskan bahwa tradisi ini sudah melegenda dan memang harus dilakukan agar dagangan tiba tepat waktu di lokasi mangkal.
"Itu, paling telat jam 06.00 harus udah sampai di tempat dagang. Kalau lebih dari jam 06.00, nanti pelanggan-pelanggan yang berangkat kerja, sekolah, atau lain sebagainya nggak jadi beli," kata pemuda 25 tahun yang karib disapa Amar itu.
Amar tampil modis, khas Gen Z, dengan kaus hitam bergaya streetwear, celana jeans longgar, serta sepatu kulit hitam bergaya chunky. Pemuda asal Desa Satriajaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi itu bahkan berjualan memakai motor sport merah dengan gerobak bubur di bagian belakang dengan spanduk bertuliskan 'Bubur Racing', julukan yang lekat dengan para pedagang Bubur Tambun.
Rahasia di Balik Kelezatan Bubur Tambun
Tangan Amar begitu telaten menyiapkan bubur beserta topping-nya. Ia menuangkan kecap asin, disusul suwiran ayam, cakwe, seledri, bawang goreng, hingga tongcai (caipo)-sawi putih kering-yang selalu diincar masyarakat dari Bubur Tambun. "Tongcai! Itu, sih yang ngebedain dari bubur-bubur ayam kebanyakan," ucap Rindy (27), salah satu pelanggan setia Bubur Tambun.
Lebih lanjut, Amar mengungkapkan bahwa dirinya baru beberapa minggu mangkal di satu titik, usai lima tahun terakhir berkeliling di Komplek Permata Timur, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Amar mengaku dua dandang Bubur Tambun racikannya itu selalu habis tak tersisa. Ketika akhir pekan maupun hari libur, penjualan ikut meningkat dengan total 100 porsi yang laku terjual.
"Sedangkan (ketika) mangkal, kalau pelanggan mau beli bubur pagi-pagi, ya dia bisa langsung datang. Jadi, waktunya pas (dan) lebih efisien juga," ungkapnya.
Ciri Khas Bubur Tambun yang Melegenda
Secara visual, Bubur Tambun menyerupai bubur ala Tionghoa maupun Bandung, yakni bertekstur padat, tanpa kuah kaldu kuning, serta ditaburi tongcai untuk memberikan sensasi renyah. Meski sekilas terlihat kental, resep turun-temurun milik Amar membuat Bubur Tambun racikannya tidak terlalu encer maupun pekat.
"Malah makin lama (dibiarkan) yang penting disiapin dari awal, terus nggak diaduk-aduk (dan tetap) ditaruh di tempat styrofoam atau mangkok itu malah tambah kental," bebernya.
Fenomena 'Bubur Racing' ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan semangat para pedagang kecil tak pernah padam. Mereka tak hanya menyajikan sarapan pagi, tetapi juga sebuah pertunjukan yang menghibur dan menjadi bagian dari denyut nadi Jakarta setiap harinya.
Artikel Terkait
Maia Estianty Tegas Minta Publik Tak Tanyakan Soal Kehamilan ke El Rumi dan Syifa Hadju
Polisi Amankan Terduga Pelaku Pembunuhan Wanita di Hotel Kebayoran Baru
Dua Wakil Indonesia Siap Tempur di Semifinal Singapore Open: Alwi Farhan Hadapi Tuan Rumah, Fajar/Fikri Jumpa Unggulan China
Menteri PU Pastikan Pasokan Air Baku untuk SPAM Karang Baru di Aceh Tamiang Pascabencana