107.000 Warga Swiss Tinggalkan Gereja Sepanjang 2023, Dipicu Pajak dan Sekularisasi

- Senin, 10 Agustus 2026 | 12:50 WIB
107.000 Warga Swiss Tinggalkan Gereja Sepanjang 2023, Dipicu Pajak dan Sekularisasi

PARADAPOS.COM - Lebih dari 107.000 warga Swiss resmi meninggalkan gereja sepanjang tahun 2023, sebuah angka yang hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari kewajiban membayar pajak gereja yang mencapai 1-3 persen dari pendapatan hingga meluasnya sekularisasi dan skandal di lingkungan institusi keagamaan. Kanton Basel-Stadt mencatat tingkat pengunduran diri tertinggi, mencapai 4,5 persen, menurut data Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI).

Gelombang pengunduran diri massal ini terasa di berbagai wilayah, terutama di kanton-kanton yang memberlakukan pungutan wajib bagi warga yang terdaftar sebagai anggota gereja resmi negara. Besaran pajak ini bervariasi, bergantung pada kebijakan masing-masing kanton, dan menjadi beban finansial yang signifikan bagi sebagian warga.

Pajak Gereja dan Dampaknya terhadap Keanggotaan

Bagi banyak warga, satu-satunya cara untuk terbebas dari pungutan tahunan tersebut adalah dengan secara resmi menghentikan keanggotaan gereja. Mekanisme ini tersedia di sejumlah kanton, dan tampaknya menjadi faktor pendorong utama di balik lonjakan angka pengunduran diri. Di Basel-Stadt, misalnya, proses administrasi untuk keluar dari gereja relatif mudah diakses, yang berkorelasi dengan tingginya angka pengunduran diri di wilayah tersebut.

Data yang dihimpun dari media lokal Le News menunjukkan angka yang mencengangkan: sebanyak 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss sepanjang tahun 2023. Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, sekitar 39.517 orang juga mengambil langkah serupa dari Gereja Protestan. Jika digabungkan, totalnya mendekati 107.000 orang, sebuah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Swiss.

Bukan Hanya Soal Uang: Sekularisasi dan Skandal

Meskipun pajak menjadi pemicu utama, para pengamat menilai fenomena ini tidak bisa direduksi hanya pada persoalan finansial semata. "Pajak gereja memang menjadi alasan praktis, tetapi ada arus bawah yang lebih besar, yaitu sekularisasi yang terus mengikis peran institusi agama dalam kehidupan publik," ujar seorang sosiolog yang memantau tren keagamaan di Swiss.

Skandal pelecehan seksual yang mengguncang Gereja Katolik di berbagai negara Eropa juga disebut-sebut turut mempercepat arus keluarnya umat. Kepercayaan publik terhadap institusi gereja semakin terkikis, terutama di kalangan generasi muda yang lebih kritis terhadap otoritas keagamaan.

Data demografis memperkuat argumen ini. Sekitar 34 persen penduduk Swiss mengidentifikasi diri sebagai ateis pada tahun 2022. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga memang telah lama menjauh dari praktik keagamaan, sehingga keputusan untuk keluar dari gereja hanyalah formalitas administratif dari kondisi yang sudah berlangsung lama.

Menariknya, tingkat pengunduran diri cenderung lebih tinggi di kanton-kanton yang menerapkan pajak gereja. Hal ini mengindikasikan bahwa pungutan tersebut berfungsi sebagai "pemicu terakhir" bagi mereka yang sebenarnya sudah tidak lagi merasa terikat dengan gereja, tetapi belum mengambil langkah resmi untuk keluar.

Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi institusi gereja di Swiss. Di satu sisi, mereka kehilangan jemaat dan sumber pendapatan; di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan pertanyaan mendasar tentang relevansi mereka di tengah masyarakat yang semakin sekuler. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan pajak gereja maupun upaya pemulihan kepercayaan publik.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar