PARADAPOS.COM - Tujuh titik terisolir di Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya berhasil ditembus tim gabungan Polda NTT dan polres setempat pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang memutus akses jalan dan memicu longsor. Polisi terpaksa menyusuri sungai berarus deras dan membersihkan material longsor secara manual untuk memastikan bantuan logistik tiba di tangan warga. Pelaksana Harian (Plh) Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Sajimin mengakui proses evakuasi dan distribusi ini berjalan lambat karena medan yang ekstrem, sementara di Dusun Lemes, Manggarai Barat, dua keluarga terpaksa membangun hunian darurat setelah rumah mereka rusak parah. Perjalanan membawa bantuan ke desa-desa yang terputus aksesnya bukan sekadar soal jarak. Di sejumlah titik, arus sungai yang deras menjadi penghalang utama. Personel kepolisian terlihat bahu-membahu membawa logistik di atas kepala, mencoba menyeberang dengan hati-hati. “Jadi dalam pelaksanaannya memang menghadapi beberapa kendala terkait dengan jarak yang jauh dan harus melewati sungai ataupun menyingkirkan batu-batu pascagempa yang pertama ataupun gempa susulan,” ujar Sajimin dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 22 Agustus 2026. Setelah melewati aliran sungai, tantangan berikutnya muncul dari jalur darat. Jalanan berbukit yang sempit kini dipenuhi tumpukan material longsor. Kendaraan roda empat tidak bisa melaju bebas. Setiap kali menemukan timbunan batu dan lumpur, petugas harus turun, menggeser material dengan alat seadanya, lalu melanjutkan perjalanan. Cara ini memang memakan waktu, tetapi tidak ada pilihan lain. Satu per satu wilayah yang sebelumnya benar-benar tertutup kini mulai terbuka. Rumah Rusak dan Hunian Darurat di Dusun Lemes Di Dusun Lemes, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, pemandangan berbeda menanti. Sisa-sisa rumah masih berserakan. Atap-atap roboh, dinding jebol, dan sebagian besar struktur bangunan tidak lagi kokoh. Kerusakan diperkirakan mencapai 85 persen, membuat rumah-rumah tersebut tidak aman sama sekali untuk ditinggali. Dua kepala keluarga, termasuk lansia dan anak-anak, terpaksa mengungsi. Mereka tidak menunggu bantuan tenda resmi, melainkan langsung membangun hunian darurat sederhana dari material seadanya yang masih bisa diselamatkan. Kondisi ini tentu jauh dari layak, tetapi setidaknya memberi sedikit perlindungan dari panas dan hujan. Menanggapi situasi tersebut, Polres Manggarai Barat menerjunkan 20 personel ke lokasi. Mereka tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga turun tangan membersihkan puing-puing bangunan yang berbahaya. Kehadiran mereka diharapkan bisa mempercepat proses pemulihan, setidaknya membuat lingkungan sekitar lebih aman untuk dilalui warga. “Ya perlahan kami akan melaksanakan trauma healing jadi kami membantu perintah bapak kapolda, pemerintah harus hadir, baik TNI-Polri, pemerintah daerah memberikan bantuan kepada masyarakat. Kami harap pelan-pelan kita memperbaiki infrastruktur yang ada,” kata Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang. Harapan di Tengah Puing Gempa Flores yang mengguncang dengan kekuatan besar memang menyisakan luka mendalam. Namun, di tengah tumpukan puing dan keterbatasan akses, upaya gotong royong mulai terlihat. Bantuan tenaga dan material yang terus mengalir menjadi secercah harapan bagi warga agar perlahan bisa kembali memiliki tempat tinggal yang aman untuk ditinggali. Meski belum semua wilayah terjangkau, kerja keras aparat gabungan ini menunjukkan bahwa tidak ada yang menyerah. Setiap bantuan yang berhasil diantar adalah kemenangan kecil di tengah bencana besar. Warga pun mulai berani bermimpi untuk membangun kembali rumah dan kehidupan mereka dari nol.
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun
Prabowo Pimpin Langsung Rapat Karhutla di Kubu Raya, 198 Hotspot Terdeteksi di Kalbar