PBB Peringatkan Eskalasi Berbahaya Konflik Rusia-Ukraina, Korban Sipil Melonjak 21 Persen

- Kamis, 28 Mei 2026 | 14:50 WIB
PBB Peringatkan Eskalasi Berbahaya Konflik Rusia-Ukraina, Korban Sipil Melonjak 21 Persen
PARADAPOS.COM - Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, pada Kamis mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi eskalasi konflik yang semakin berbahaya antara Rusia dan Ukraina. Peringatan ini muncul di tengah ancaman terbaru dari Moskow yang berniat mengintensifkan serangan militer. Dalam pernyataan resminya, Turk mendesak kedua belah pihak untuk segera menahan diri dan kembali ke meja perundingan demi mengakhiri penderitaan warga sipil yang terus berjatuhan.

Lonjakan Korban Sipil yang Mengkhawatirkan

Data terbaru dari PBB menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah korban jiwa. Sepanjang empat bulan pertama tahun 2026, jumlah warga sipil yang tewas atau terluka di Ukraina melonjak hingga 21 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka ini menggambarkan betapa brutalnya dampak konflik terhadap penduduk non-kombatan. Menurut catatan resmi PBB, sebanyak 815 warga sipil tewas dan 4.174 lainnya luka-luka antara Januari hingga April tahun ini. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di tahun 2025, tercatat 682 orang tewas dan 3.453 orang luka-luka. Sebagian besar dari korban jiwa tersebut dilaporkan terjadi di wilayah-wilayah yang masih berada di bawah kendali Ukraina.

Serangan Brutal di Kota-Kota Besar

Turk secara spesifik menyoroti beberapa insiden mematikan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu yang paling menonjol adalah serangan terhadap sebuah gedung apartemen di Kiev pada 13-14 Mei lalu. Peristiwa nahas itu merenggut nyawa 24 warga sipil dan melukai puluhan lainnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Di sisi lain, Turk juga menyinggung serangan yang dilakukan oleh pasukan Ukraina terhadap sebuah kompleks pendidikan di Starobilsk, sebuah wilayah yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia. Peristiwa yang terjadi pada 21-22 Mei itu, menurut keterangan otoritas Rusia, menewaskan 21 orang dan melukai 44 lainnya. Kantor Hak Asasi Manusia PBB menegaskan bahwa informasi yang beredar di publik mengindikasikan bahwa warga sipil, termasuk para pelajar, turut menjadi korban dalam insiden tersebut.

Hukum Humaniter Bukan Sekadar Saran

Dalam pernyataannya, Turk menekankan bahwa hukum humaniter internasional bukanlah sebuah opsi yang bisa diabaikan. "Hukum humaniter internasional menuntut agar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik mengambil semua tindakan pencegahan yang memungkinkan untuk menghindari kerugian bagi warga sipil - ini bukan sekadar saran atau rekomendasi, tetapi kewajiban yang mengikat yang membawa tanggung jawab hukum bagi mereka yang terlibat," tegasnya. Ia menambahkan dengan nada prihatin, "Dan seolah-olah semua angka korban ini belum cukup mengerikan, setelah serangan-serangan ini, para pejabat Rusia secara terbuka mengancam akan meningkatkan serangan di seluruh Kiev." Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa situasi di lapangan bisa semakin memburuk dalam waktu dekat.

Seruan untuk Investigasi dan Akuntabilitas

Selain mengutuk serangan terhadap warga sipil, Kepala Hak Asasi Manusia PBB itu juga menyoroti serangan Rusia terhadap personel dan material kemanusiaan. Ia mendesak agar segera dilakukan penyelidikan independen atas setiap kematian dan luka-luka yang dialami warga sipil dari kedua belah pihak. Turk juga mencatat bahwa serangan balasan oleh angkatan bersenjata Ukraina telah menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil yang berada di dalam wilayah Rusia. "Saya menyesalkan hilangnya nyawa warga sipil dan luka-luka yang dialami warga sipil baru-baru ini," ujarnya. Di akhir pernyataannya, ia mendesak kedua pihak untuk melakukan investigasi yang cepat, independen, dan efektif, serta menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas pelanggaran hukum perang. Suasana di lapangan, menurut laporan, masih mencekam dengan sirene serangan udara yang kerap kali memecah kesunyian malam di Kiev dan kota-kota besar lainnya.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar