PARADAPOS.COM - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak. Kondisi ini turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Emas spot (XAU/USD) tercatat turun 0,4 persen ke level USD4.003,68 per ons, sementara emas berjangka melemah lebih dalam, yakni 2,2 persen menjadi USD4.008,25 per ons.
Harga Minyak Tekan Emas
Sepanjang pekan lalu, harga emas sudah mengalami koreksi lebih dari dua persen. Tekanan ini belum mereda. Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent menembus USD90 per barel.
Lonjakan harga energi ini langsung memicu kekhawatiran baru di pasar. Inflasi dinilai berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Akibatnya, peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed pun semakin menipis. Ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global dan pasar komoditas pun ikut membayangi.
Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed
Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada langkah The Fed selanjutnya. Sejumlah data ekonomi AS sebelumnya sempat menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Namun, kenaikan harga energi kini dinilai bisa menghambat proses tersebut.
Suku bunga yang tetap tinggi umumnya memperkuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan dolar AS. Hal ini secara langsung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di tengah dinamika ini, analis dari ANZ menilai bahwa ketegangan di Timur Tengah sempat mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Juli.
“Meski probabilitas tersebut kemudian kembali menurun,” ungkap analis ANZ.
Lebih lanjut, ANZ memperkirakan The Fed masih berpeluang mempertahankan suku bunga tahun ini. Menurut mereka, bank sentral AS cenderung mengabaikan kenaikan harga energi selama belum memicu tekanan inflasi yang lebih luas. Apabila ekspektasi pengetatan kebijakan moneter kembali mereda, harga emas diperkirakan akan memperoleh dukungan pada kisaran USD3.800 hingga USD4.000 per ons.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Bupati Lombok Barat Diamankan KPK dalam Operasi Tangkap Tangan
Polisi Selidiki Rencana Distribusi Tramadol untuk Kelompok Demo di Tanah Abang
Kereta Api Indonesia Gunakan Empat Jenis Bahan Bakar, dari Solar hingga Hidrogen
Presiden Prabowo Perintahkan Menteri Belajar ke India, Brasil, Tiongkok, dan Vietnam untuk Tekan Angka Kelaparan