Jawa Barat Resmi Masuk Musim Kemarau, BMKG Prediksi Puncak Kekeringan pada Agustus-September 2026

- Senin, 20 Juli 2026 | 10:25 WIB
Jawa Barat Resmi Masuk Musim Kemarau, BMKG Prediksi Puncak Kekeringan pada Agustus-September 2026
PARADAPOS.COM - Seluruh wilayah Jawa Barat resmi memasuki musim kemarau. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat pada Juli 2026, sebanyak 98 persen dari total 41 zona musim (ZOM) telah berada dalam fase kering. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menyampaikan bahwa satu ZOM sisanya merupakan tipe satu musim. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, dengan curah hujan di bawah normal dan diperparah oleh fenomena El Nino.

Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino

Edi Wibowo memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Karakteristik cuaca pada periode ini diperkirakan lebih kering dari rata-rata klimatologisnya. Penyebab utamanya adalah perkiraan curah hujan yang masuk dalam kategori rendah atau di bawah normal. "Agustus diperkirakan menjadi puncak kemaraunya," tambah Edi. Musim kemarau tahun ini tidak berjalan sendiri. Berdasarkan analisis BMKG, peluang terjadinya El Nino kategori lemah mencapai 100 persen. Sementara itu, peluang El Nino moderat sebesar 98 persen, dan kuat 60 persen. Akibatnya, durasi musim kemarau di beberapa wilayah Jawa Barat diprediksi lebih panjang dari biasanya. "Sehingga untuk durasi musim kemarau tahun ini di beberapa wilayah di Jawa Barat diprediksi lebih panjang, dengan sifat hujan di bawah normal," tegasnya.

Dampak dan Imbauan untuk Masyarakat

Menghadapi kondisi yang cukup ekstrem ini, Edi mengimbau masyarakat untuk bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih. Ia juga meminta para pemangku kepentingan segera melakukan mitigasi. Langkah ini penting untuk meminimalisasi dampak kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Beberapa langkah preventif yang disarankan antara lain percepatan pembangunan jaringan air bersih, pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan, optimalisasi pengisian waduk, dan perbaikan sistem irigasi. "Untuk sektor kehutanan, harus dilakukan antisipasi dan pemetaan daerah-daerah yang rawan terjadi karhutla," jelasnya. Di lapangan, dampak kemarau sudah mulai terasa. BPBD Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, telah memasok 8.000 liter air bersih ke Kampung Sukajaya, Kampung Sirnagalih, Desa Kalapagenep, Kecamatan Cikalong. Langkah serupa diharapkan dapat dilakukan secara merata di seluruh wilayah Jawa Barat selama puncak musim kemarau berlangsung.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar