BMKG: Puncak Musim Kemarau di Sulawesi Utara Terjadi Agustus-September 2026, 12 Wilayah Terdampak

- Senin, 20 Juli 2026 | 18:25 WIB
BMKG: Puncak Musim Kemarau di Sulawesi Utara Terjadi Agustus-September 2026, 12 Wilayah Terdampak
PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di Sulawesi Utara akan terjadi pada Agustus dan September 2026. Pernyataan ini disampaikan oleh Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi, M Candra Buana, di Manado pada Senin, 20 Juli 2026. Wilayah yang akan merasakan dampak paling kering meliputi sembilan kota dan kabupaten di bulan Agustus, serta tiga kabupaten lainnya di bulan September.

Puncak Kemarau di Berbagai Wilayah

Candra menjelaskan bahwa pada Agustus 2026, puncak kemarau diperkirakan melanda Kota Manado, Tomohon, Bitung, Kotamobagu, serta Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, dan Bolaang Mongondow Timur. Sementara itu, pada September, giliran Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, dan Bolaang Mongondow Selatan yang akan mengalami kondisi serupa. “Kita memang baru memasuki musim kemarau pada bulan Juni dasarian dua,” ungkapnya.

Pantauan Hari Tanpa Hujan

Untuk mengukur tingkat kekeringan, BMKG menggunakan indikator hari tanpa hujan. Data terbaru menunjukkan bahwa Kecamatan Dumoga Timur di Kabupaten Bolaang Mongondow mencatat rekor terpanjang, yakni 35 hari tanpa hujan. Di posisi berikutnya, Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan, mengalami 34 hari tanpa hujan. “Hari tanpa hujan terpanjang terpantau di Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow yaitu selama 35 hari, diikuti Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan selama 34 hari,” ujarnya.

Ancaman Bencana dan Imbauan

Musim kemarau tidak hanya membawa udara kering, tetapi juga meningkatkan potensi bencana. Candra menyebutkan dua ancaman utama: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berkurangnya debit air bersih. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk bijaksana dalam menggunakan air. “Hindari membuka lahan dengan cara membakar karena area yang terbakar bisa meluas,” pesan Candra. Ia menambahkan bahwa kewaspadaan ekstra diperlukan, terutama di wilayah-wilayah yang sudah terpantau kering. Langkah antisipasi sejak dini diharapkan dapat meminimalkan risiko yang mungkin timbul selama puncak kemarau berlangsung.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar