PARADAPOS.COM - Tim Nasional Spanyol berhasil merebut trofi Piala Dunia 2026, mengakhiri puasa gelar selama 16 tahun sejak edisi 2010 di Afrika Selatan. Kemenangan La Roja atas Argentina di partai puncak tidak lepas dari kombinasi kematangan mental, kualitas individu pemain, dan strategi jitu pelatih Luis de la Fuente. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan dominasi baru Spanyol di panggung sepak bola dunia.
Rekor Fantastis di Bawah Asuhan De la Fuente
Pengamat sepak bola, Anton Sanjoyo, menyoroti pencapaian luar biasa Spanyol sebelum laga final. Skuad matador mencatatkan rekor tak terkalahkan dalam 37 pertandingan, dengan 28 di antaranya berakhir kemenangan. Menurut pria yang akrab disapa Bung Joy ini, strategi Argentina untuk meredam permainan Spanyol sebenarnya sudah terbaca sejak awal laga, namun berujung kegagalan total.
"Argentina tidak ingin membuat Spanyol bermain dengan enak dan flowing. Artinya harus ada sedikit permainan keras di lapangan tengah, terlihat dari kartu kuning cepat yang didapat Mac Allister dan Enzo Fernandez. Tapi ternyata Spanyol dingin, mereka tidak terpancing dan tetap bermain dengan rencana semula: ball possession," ujar Bung Joy dalam program Primetime News Metro TV, Senin 20 Juli 2026.
Kunci Keberhasilan: Isolasi Messi dan Alvarez
Salah satu faktor penentu kemenangan Spanyol adalah sistem pertahanan yang diterapkan. Alih-alih menggunakan man-to-man marking, De la Fuente memilih zonal marking. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk mengasingkan dua ujung tombak Argentina, Lionel Messi dan Julian Alvarez, dari aliran bola.
Bung Joy memaparkan, pergerakan Messi yang biasanya merajalela di area pertahanan lawan berhasil ditutup rapat oleh pemain bertahan Spanyol seperti Pau Cubarsi dan Marc Cucurella. “Ini yang membuat Messi kehilangan semua magisnya. Bahkan sampai menit ke-90, Argentina tidak punya shot on target. Sampai 100 menit lewat, expected goal mereka itu nol. Nyaris tidak ada harapan untuk mencetak gol,” jelasnya.
Faktor Fisik dan Kedalaman Skuad
Selain adu taktik, faktor fisik dan kedalaman skuad turut menjadi penentu nasib kedua tim di laga final yang diprediksi berjalan sangat seimbang. Tim Tango datang dengan rata-rata usia pemain 29,8 tahun, menjadikan mereka salah satu skuad tertua di turnamen ini. Beban fisik mereka semakin berat setelah dua kali pertandingan harus diselesaikan lewat babak perpanjangan waktu, termasuk saat melawan Tanjung Verde.
Sebaliknya, Spanyol tampil dengan amunisi muda yang berada di usia emas, dengan rata-rata umur 26 tahun. “Kaki-kaki pemain Argentina sudah sangat lelah. Spanyol jauh lebih muda dan mereka tidak terpancing oleh gaya permainan Argentina. Daya alur serangan Spanyol begitu mengalir, seperti air mengalir di sungai yang jernih,” tutur Bung Joy.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polisi: Laporan Hotman Paris soal Dugaan Penggelapan Rp3,29 Miliar oleh Rocky Napitupulu Terhenti karena Tersangka Meninggal
TKI Asal Maros Ditemukan Tewas di Armenia, Diduga Tangan dan Kaki Terikat Lakban
BNPB Catat Kebakaran Hutan dan Lahan Dominasi Bencana di Indonesia, 48 Hektare di Buleleng Jadi Terluas
IHSG Menguat ke 6.299 Jelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.749 Triliun