PARADAPOS.COM - Dunia basket kembali dihebohkan oleh kemunculan seorang pemain muda bertubuh raksasa asal Australia. Jongkuch Mach, pebasket berusia 18 tahun dengan tinggi mencapai 229 cm, kini menjadi sorotan para pemandu bakat NBA. Lahir di Perth pada 8 Oktober 2007, pemain keturunan Sudan Selatan ini baru serius menekuni basket di usia 14 tahun, namun perkembangannya yang eksplosif telah membuatnya dijuluki sebagai calon penerus fenomena Victor Wembanyama.
Fisik di Atas Rata-rata: Perpaduan Tinggi dan Kelincahan
Dengan postur menjulang 229 cm, Mach secara fisik melampaui tinggi resmi Wembanyama dan hanya terpaut beberapa sentimeter dari legenda NBA seperti Manute Bol dan Gheorghe Muresan. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya ukuran tubuhnya.
Pemain yang berposisi sebagai center ini memiliki mobilitas yang terbilang langka untuk seseorang dengan tinggi badannya. Ia bergabung dengan BA Centre of Excellence, akademi elite milik Basketball Australia yang berlaga di kompetisi NBL1 East. Lembaga ini dikenal sebagai tempat tempaan bagi bintang NBA seperti Ben Simmons dan Josh Giddey. Di lapangan, keunggulan utama Mach terletak pada kemampuannya melindungi ring, jangkauan blok yang sangat luas, serta pergerakan yang gesit.
Penampilan Memukau di Panggung Internasional
Gaya bermain Mach kerap membuat penonton terpana. Jangkauan tangannya yang luar biasa memungkinkan dia melakukan dunk tanpa perlu melompat. Namun, para manajer tim NBA justru lebih terkesan dengan insting bertahannya.
Di level nasional U-20 Australia, Mach mencatat rata-rata blok yang impresif. Puncaknya terjadi saat ia membela tim Next Stars di ajang adidas EUROCAMP di Treviso, Italia. Di sana, pelatih kawakan Phil Handy secara terbuka memberikan pujian tinggi.
"Bisa dibilang 'Big JK' adalah salah satu kejutan terbesar bagi saya. Bukan hanya soal tinggi badan dan tangan yang besar, tapi mobilitas serta kemampuannya membaca pergerakan untuk melakukan blok sangat luar biasa," ungkap Phil Handy.
Menentukan Jalur Menuju NBA Draft
Saat ini, Mach berada di persimpangan krusial kariernya. Ia harus memilih jalur terbaik menuju NBA Draft. Opsi pertama adalah melalui jalur kuliah di Amerika Serikat (NCAA). Beberapa program universitas ternama seperti Louisiana State University (LSU), Colorado, dan Santa Clara dikabarkan telah menawarkan beasiswa.
Alternatif lainnya adalah tetap di Australia melalui program NBL Next Stars. Jalur profesional lokal ini telah terbukti sukses mengantarkan banyak pemain muda langsung menjadi pilihan tinggi di draft NBA.
Meskipun masih perlu meningkatkan daya tahan fisik dan akurasi tembakan bebas, fleksibilitas Mach menjadikannya salah satu aset paling berharga di masa depan. Jika perkembangannya berjalan konsisten, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, NBA akan menyaksikan lahirnya duet atau rivalitas raksasa baru di antara para pemain bertinggi badan ekstrem.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
DLHK Banten Segel Tiga Perusahaan di Teluknaga Terbukti Cemari Sungai Cisadane
Pemerintah Kirim Tim ke India, Brasil, China, dan Vietnam untuk Pelajari Strategi Penghapusan Kelaparan
Filipina Tuding Penjaga Pantai Tiongkok Pukul Personel Militer di Laut China Selatan, Beijing Bantah
MG S5 EV Hadir sebagai SUV Listrik Keluarga dengan Fitur Antimabuk Perjalanan