TKI Asal Maros Ditemukan Tewas di Armenia, Diduga Tangan dan Kaki Terikat Lakban

- Selasa, 21 Juli 2026 | 06:50 WIB
TKI Asal Maros Ditemukan Tewas di Armenia, Diduga Tangan dan Kaki Terikat Lakban
PARADAPOS.COM - Kesedihan mendalam masih menyelimuti keluarga Valenth Alexie Tamboto, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang ditemukan tewas di sebuah mes perusahaan di Yerevan, Armenia. Sang adik, Arnold Laurence Tamboto, mengungkapkan kronologi awal ditemukannya korban dalam kondisi mengenaskan pada Selasa, 21 Juli 2026. Rekan kerja korban mulai curiga setelah Valenth tidak merespons pesan WhatsApp maupun Telegram selama hari liburnya. Biasanya, korban selalu keluar kamar untuk makan dan berkumpul di kantin, namun pada hari itu ia tidak terlihat sama sekali.

Kronologi Penemuan Jenazah

Arnold Laurence Tamboto menceritakan bahwa kecurigaan rekan kerja Valenth muncul setelah sang kakak tidak kunjung membalas pesan di hari liburnya. Setelah beberapa kali mengetuk pintu tanpa jawaban, rekan kerja memutuskan untuk membuka kamar menggunakan kunci cadangan. Di dalam, mereka menemukan Valenth telah meninggal dunia di atas tempat tidur dalam kondisi tubuh kaku. “Setelah beberapa kali mengetuk pintu tanpa jawaban, rekan kerja membuka kamar menggunakan kunci cadangan. Mereka menemukan Valenth telah meninggal dunia di atas tempat tidur dalam kondisi tubuh kaku,” kata Arnold di Maros, Selasa, 21 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari rekan kerja, tangan dan kaki korban diduga terikat lakban, sementara mulut dan leher juga tertutup lakban. Arnold mengaku terakhir kali masih berkomunikasi dengan sang kakak pada dini hari sebelum korban ditemukan meninggal.

Riwayat Pekerjaan dan Dugaan Awal

Selama bekerja di Armenia sekitar tiga bulan terakhir, korban tidak pernah mengeluhkan persoalan di tempat kerja. Ia hanya sempat menyampaikan keinginannya untuk segera pulang ke Indonesia. Suasana di lapangan, menurut keterangan keluarga, Valenth adalah pribadi yang pendiam dan jarang bercerita tentang tekanan pekerjaan. Keluarga juga menerima informasi tidak resmi bahwa korban diduga menolak ajakan sejumlah orang untuk terlibat dalam dugaan penggelapan dana perusahaan. Namun, informasi tersebut masih menunggu konfirmasi dari otoritas Armenia. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian setempat mengenai motif di balik kematian Valenth.

Upaya Pemulangan Jenazah dan Harapan Keluarga

Hingga kini, keluarga belum dapat melihat langsung jenazah korban. Kedutaan Besar Republik Indonesia disebut masih berupaya memperoleh akses dari otoritas setempat. Proses birokrasi di Armenia menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang terus menanti kepastian. Bagi keluarga, harapan terbesar saat ini adalah pemerintah dapat membantu memulangkan jenazah Valenth ke Indonesia agar dimakamkan secara layak di kampung halamannya. Selain itu, mereka juga mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan pelaku mendapat hukuman sesuai ketentuan yang berlaku. Suasana duka masih terasa pekat di rumah duka di Maros, menunggu kepulangan terakhir sang anak.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar