Filipina Tuding Penjaga Pantai Tiongkok Pukul Personel Militer di Laut China Selatan, Beijing Bantah

- Selasa, 21 Juli 2026 | 08:25 WIB
Filipina Tuding Penjaga Pantai Tiongkok Pukul Personel Militer di Laut China Selatan, Beijing Bantah
PARADAPOS.COM - Ketegangan kembali memuncak di Laut China Selatan setelah Filipina menuduh personel Penjaga Pantai Tiongkok memukul seorang anggota militernya dengan tongkat kayu di dekat Second Thomas Shoal pada Senin kemarin. Insiden yang terjadi sekitar pukul 09.15 waktu setempat ini langsung dibantah keras oleh Beijing. Pemerintah Tiongkok menyebut personelnya justru bertindak dengan “penahanan diri maksimal” setelah diprovokasi oleh pihak Filipina. Peristiwa ini menambah daftar panjang gesekan di kawasan yang kaya akan sumber daya dan jalur pelayaran strategis tersebut.

Kronologi Insiden Versi Filipina

National Task Force for the West Philippine Sea (NTF-WPS) merilis pernyataan resmi yang merinci kejadian tersebut. Menurut laporan mereka, kapal Penjaga Pantai Tiongkok bernomor 21560 menurunkan sebuah perahu karet yang kemudian mendekati BRP Sierra Madre, sebuah kapal perang Filipina yang kandas di karang tersebut. Personel Filipina di kapal mengaku telah berulang kali meminta perahu karet itu untuk meninggalkan lokasi. Namun, bukannya mundur, awak kapal Tiongkok justru disebut meningkatkan eskalasi. Puncaknya, NTF-WPS menuduh seorang anggota Penjaga Pantai Tiongkok memukul seorang personel militer Filipina di bagian kepala menggunakan tongkat kayu. Akibat pukulan tersebut, korban dilaporkan mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Bantahan dan Klaim Tiongkok

Di sisi lain, Beijing membantah keras seluruh tuduhan tersebut. Penjaga Pantai Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang berisi versi kejadian yang berbeda secara diametral. Mereka mengklaim bahwa perahu karet Filipina lah yang mengabaikan peringatan berulang kali. “Personel Filipina lebih dahulu menyerang petugas penegak hukum Tiongkok menggunakan dayung dan tongkat panjang,” demikian pernyataan resmi Tiongkok yang dikutip oleh media setempat pada Selasa, 21 Juli 2026. Penjaga Pantai Tiongkok menambahkan bahwa perahu karet Filipina mendekati kapal patroli mereka dengan kecepatan tinggi, serta berupaya mengepung dan menabraknya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya hanya memberikan peringatan lisan, melakukan manuver, dan mengambil tindakan balasan yang sesuai hukum. “Kami menunjukkan penahanan diri maksimal dan rasionalitas,” ujar juru bicara Penjaga Pantai Tiongkok dalam pernyataannya. Lebih lanjut, Beijing menuduh Manila sengaja memutarbalikkan fakta dan menyebarkan informasi yang tidak benar mengenai insiden tersebut.

Posisi Filipina dan Seruan Hukum Internasional

Filipina, melalui NTF-WPS, menegaskan bahwa BRP Sierra Madre ditempatkan di Second Thomas Shoal yang menurut Manila berada di dalam zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen negara mereka. Mereka menggambarkan insiden tersebut sebagai tindakan agresif yang tidak hanya membahayakan personel, tetapi juga meningkatkan ketegangan dan risiko salah perhitungan di laut. “Keselamatan setiap personel militer Filipina merupakan prioritas utama,” tegas pernyataan NTF-WPS. Manila menekankan komitmennya untuk menyelesaikan sengketa secara damai sesuai hukum internasional, namun tetap akan melindungi hak berdaulat dan yurisdiksinya. Sebagai langkah diplomatik, Manila mendesak Penjaga Pantai Tiongkok untuk menghentikan tindakan yang dinilai membahayakan keselamatan dan mematuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar