PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran dengan pernyataan keras. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan penghancuran satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk yang berada di sekitar ibu kota Teheran. Ancaman ini muncul setelah tiga personel militer AS tewas dalam operasi di Timur Tengah, sementara Komando Pusat AS (CENTCOM) melanjutkan serangan terhadap target-target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut.
Ancaman Trump dan Respons Militer AS
Dalam unggahannya, Trump menulis dengan tegas bahwa “setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik.” Pernyataan ini, yang dikutip pada Kamis, 23 Juli 2026, mempertegas sikap Washington yang semakin agresif di kawasan tersebut.
CENTCOM melaporkan bahwa sasaran serangan meliputi pusat operasi militer, gudang penyimpanan drone, dan infrastruktur logistik militer Iran. Serangan ini merupakan bagian dari operasi yang telah berlangsung selama 11 malam berturut-turut, menunjukkan eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.
Reaksi Iran: Ancaman Balasan dan Kendali Selat Hormuz
Tidak butuh waktu lama bagi Teheran untuk merespons. Seorang sumber militer Iran yang dikutip kantor berita Tasnim menyatakan bahwa Iran akan menyerang infrastruktur dan fasilitas energi yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan apabila Washington benar-benar menyerang pembangkit listrik atau jembatan di Iran.
Sumber itu juga menegaskan bahwa Iran tetap ingin mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, kapal-kapal hanya akan mendapat jaminan keamanan apabila perjalanan mereka dikoordinasikan dengan Teheran sesuai aturan yang ditetapkan Iran. Sikap ini menunjukkan bahwa Iran tidak akan mundur dari posisinya sebagai penguasa de facto jalur pelayaran strategis tersebut.
Pandangan Diplomatik AS: Rubio Kecam Tindakan Iran
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Iran tidak serius dalam upaya mencapai kesepakatan damai. Berbicara dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Filipina, Rubio dengan tegas menyatakan bahwa Iran tidak memiliki hak berdasarkan hukum internasional untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz.
“Jika kita membiarkan satu negara menguasai jalur pelayaran internasional, mengenakan biaya, lalu mengancam menghancurkan kapal yang tidak membayar, itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya,” ujarnya. Pernyataan ini menekankan kekhawatiran Washington terhadap stabilitas global jika tindakan Iran dibiarkan.
Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa AS masih membuka pintu diplomasi. Ia mengatakan Washington bersedia mencapai penyelesaian damai apabila Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok teroris dan menghentikan upaya memperoleh senjata nuklir. Namun, menurutnya, Iran telah melanggar komitmen dalam nota kesepahaman yang disepakati bulan lalu sehingga saat ini tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan.
Implikasi dan Konteks Lebih Luas
Ketegangan di Selat Hormuz bukanlah hal baru, namun ancaman langsung terhadap infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik menandai eskalasi yang signifikan. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di sana dapat memicu gejolak harga energi global.
Dari sudut pandang lapangan, situasi ini mengingatkan pada konfrontasi AS-Iran di masa lalu, namun dengan skala ancaman yang lebih besar. Para analis keamanan mencatat bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dapat memicu respons berantai yang sulit dikendalikan, terutama jika Iran benar-benar melaksanakan ancaman balasannya terhadap fasilitas energi AS di kawasan.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak ketiga, seperti PBB atau negara-negara Teluk, mengenai langkah-langkah mediasi. Yang jelas, kedua belah pihak tampaknya sudah berada di jalur yang sulit untuk kembali ke meja perundingan.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemerintah Konsolidasi 250 BUMN, Hemat Rp50 Triliun Hingga Juli 2026
Kritik Mengalir, Kepala BGN Baru Sebut Program MBG Bak Pacman Serap Hasil Pertanian
Pemkot Jaksel Ungkap Penyebab SDN Kebayoran Lama Selatan Ambruk: Bangunan Berusia 50 Tahun Tak Pernah Direnovasi Struktural
Pembalap Indonesia Finis Ketiga di Mandalika, Kunci Posisi Lima Besar Klasemen Akhir Musim