PARADAPOS.COM - Lhokseumawe, 23 Juli 2026. Ketua Yayasan Sukma Bangsa, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa pendidikan telah menjadi fondasi utama dalam membangun kembali Aceh pasca-tsunami 2004. Hal ini disampaikannya dalam peringatan 20 tahun Yayasan Sukma Bangsa di Lhokseumawe, Kamis. Ia mengenang perjalanan dua dekade lembaga pendidikan yang lahir dari duka dan luka bencana dahsyat tersebut.
Dua Dekade Menanam Keberanian dan Harapan
Selama 20 tahun terakhir, Lestari menyaksikan sendiri bagaimana para guru dan tenaga kependidikan bekerja tanpa lelah. Menurutnya, mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan.
“Mendidik bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan. Mendidik sesungguhnya adalah menanamkan keberanian, menanamkan benih masa depan, meskipun hasilnya belum tentu kita nikmati sendiri,” katanya dalam sambutan di acara tersebut.
Sekolah Sukma Bangsa, lanjutnya, bukan sekadar bangunan fisik. Lembaga ini lahir dari duka mendalam yang dirasakan masyarakat Aceh setelah tsunami.
“Sekolah ini dibangun bukan semata-mata sebagai sebuah gedung. Sekolah ini dibangun dari luka, dari duka, dari tangisan. Perjalanan sekolah ini membawa kita ke dalam sebuah perjalanan sukma yang luar biasa,” ujarnya dengan nada penuh penghayatan.
Perintah dari Pendiri: Bangun Kembali Lewat Pendidikan
Lestari juga mengenang momen penting saat Pendiri Yayasan Sukma Bangsa, Surya Paloh, memberikan instruksi langsung kepadanya. Saat itu, ia sempat mengusulkan untuk hanya memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak akibat tsunami. Namun, usulan itu langsung ditolak.
“Pak Surya mengatakan kepada saya, ‘Tidak. Aceh kehilangan satu generasi, dan untuk membangun kembali hanya lewat pendidikan.’ Kalimat itu terus saya ingat hingga hari ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Surya Paloh juga menekankan pentingnya menjaga persatuan Indonesia melalui pendidikan. Bahkan, ia diminta menyanyikan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” sebagai pengingat bahwa Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia.
“Beliau mengatakan, sekolah ini harus menghasilkan anak-anak yang percaya dan yakin bahwa Indonesia tidak akan pernah ada tanpa Aceh dan Papua. Itu menjadi nilai yang terus kami pegang dalam membangun pendidikan,” ucapnya.
Belajar dari Nol, Bertahan Hingga Dua Dekade
Diakui Lestari, perjalanan membangun Sekolah Sukma Bangsa tidaklah mudah. Saat memulai, ia dan tim Yayasan Sukma Bangsa bahkan minim pengalaman mengelola sekolah.
“Kami benar-benar belajar dari awal. Kami bahkan sempat berpikir ketika sekolah dibuka, seluruh jenjang kelas akan langsung terisi. Ternyata semuanya harus dimulai dari kelas satu. Banyak hal sederhana yang saat itu belum kami pahami. Namun berkat kerja keras seluruh tim, guru, dan tenaga kependidikan, Sekolah Sukma Bangsa mampu bertahan dan berkembang hingga memasuki usia ke-20,” tuturnya.
Suasana di lokasi peringatan terasa khidmat. Para guru, alumni, dan tamu undangan tampak larut dalam nostalgia perjalanan panjang lembaga pendidikan yang berdiri di atas puing-puing bencana. Sekolah yang kini telah memasuki usia dua dekade itu menjadi saksi bisu bagaimana pendidikan mampu merajut kembali harapan yang sempat terkubur.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
inDrive Tegaskan Komitmen Layanan Adil dan Transparan di Usia ke-13, Kini Hadir di 70 Kota Indonesia
Utang Pemerintah Tembus Rp 477,4 Triliun di Semester I 2026, Tertinggi dalam Setahun
Warga Palestina Dideportasi dari Indonesia ke Siprus, Diduga Dalang Serangan Terhadap Kepentingan Israel
Pedagang Cilok di Palabuhanratu Viral karena Wajahnya Mirip Lionel Messi