PARADAPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan dan hotel megah di kawasan Ambarrukmo, Yogyakarta, terdapat sebuah kompleks bersejarah yang sunyi: Kedaton Ambarrukmo. Tempat ini pernah menjadi kediaman pensiunan Sultan Hamengkubuwono VII setelah ia turun takhta. Sejarah panjang kawasan ini kini direkonstruksi dalam sebuah buku berjudul "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri", yang resmi diluncurkan di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo pada Selasa, 21 Juli. Buku ini ditulis oleh dua akademisi, yakni Sri Margana, dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Mikke Susanto, dosen Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Menelusuri Jejak dari Kebun Raja hingga Kedaton
Berdasarkan riset yang tertuang dalam buku tersebut, kawasan Ambarrukmo memiliki akar sejarah yang panjang. Awalnya, tempat ini merupakan Kebun Raja pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II. Seiring waktu, fungsinya bertransformasi menjadi pesanggrahan, dan akhirnya berkembang menjadi Kedaton Ambarrukmo di era Sultan Hamengkubuwono VII.
Sri Margana, dalam pemaparannya, menjelaskan alasan pemilihan lokasi ini. Menurutnya, di antara semua pesanggrahan milik Kesultanan Yogyakarta, Ambarrukmo dinilai paling representatif. “Dulu karena dari semua pesanggrahan yang dimiliki oleh Kesultanan Yogyakarta, pesanggrahan ini yang paling representatif untuk didiami oleh raja. Karena ini akan didiami oleh Hamengkubuwono VII sepuh maka beberapa bangunan itu memang baru dibuat pada masa itu. Ada proses dari yang Kebun Raja menjadi pesanggrahan, kemudian menjadi kedaton,” jelasnya.
Transformasi ini menandai babak baru bagi kawasan tersebut. Beberapa bangunan baru sengaja didirikan untuk menunjang fungsi kompleks sebagai kediaman seorang raja yang telah memasuki masa purnabakti. Hingga kini, di tengah gemerlap Plaza Ambarrukmo dan Royal Ambarrukmo, masih berdiri kokoh delapan bangunan cagar budaya yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah tersebut.
Dari Sekolah Polisi hingga Kediaman Bupati Pertama
Perjalanan sejarah Ambarrukmo tidak berhenti di era Sultan Hamengkubuwono VII. Kawasan ini terus hidup dan beradaptasi pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Seorang abdi dalem yang hadir dalam acara peluncuran buku memberikan kesaksian menarik. Ia mengungkapkan bahwa kompleks ini pernah memiliki fungsi yang sangat berbeda.
“Setelah di era beliau, di era HB IX itu pernah dijadikan sekolah polisi, ada tempat kediaman Bupati Sleman yang pertama. Itu juga tempat tinggalnya di Ambarukmo sini,” katanya. Fakta ini menunjukkan betapa dinamisnya kawasan Ambarrukmo, yang tidak hanya menjadi pusat kebudayaan dan kekuasaan, tetapi juga menyentuh aspek pemerintahan dan pendidikan di masa lalu.
Membangkitkan Kesadaran di Tengah Modernitas
Keberadaan kompleks bersejarah ini ternyata masih menjadi misteri bagi sebagian pengunjung. Maya, Direktur Sales & Marketing Royal Ambarrukmo, mengakui bahwa masih banyak tamu hotel maupun pengunjung mal yang belum menyadari bahwa di tengah kawasan modern tersebut terdapat situs bersejarah yang begitu kaya. Oleh karena itu, peluncuran buku ini diharapkan menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali narasi sejarah Ambarrukmo kepada khalayak yang lebih luas.
Sri Margana menambahkan bahwa pendokumentasian ini memiliki tujuan yang lebih dalam. Ia menekankan pentingnya upaya ini bagi generasi muda. “Saya kira untuk Gen Z penting sebagai upaya memupuk kecintaan terhadap warisan sejarah. Jadi itulah yang nanti penting untuk diketahui mengapa di antara dua bangunan megah ini Pendopo Ambarukmo dan Dalem Ambarukmo masih dipertahankan karena nilai sejarahnya yang sangat kuat tadi,” ujarnya. Buku ini, menurutnya, bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan juga sebuah upaya untuk menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap warisan budaya.
Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Dengan ketebalan 248 halaman, buku ini dibanderol dengan harga Rp850.000. Bagi yang berminat, buku ini dapat diperoleh di Mirunggan Gallery, yang terletak di Arcade Area, Lobby Floor, Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dua Petugas Pemadam Tewas saat Padamkan Kebakaran Besar di Dekat Bandara Bordeaux
Sepuluh Kebakaran Lahan dan Sampah Landa Tangerang dalam Sehari, Seluruh Personel Damkar Dikerahkan
KAI Resmi Terapkan Face Recognition di 22 Stasiun, Penumpang Cukup Scan Wajah untuk Boarding
Dokter Tifa Klaim Siap Bantah 709 Dokumen Dugaan Ijazah Palsu Jokowi dengan Bukti Transkrip Nilai UGM