Indonesia Dorong Transisi dari Pengguna Jadi Perancang Standar ESG Berbasis Kondisi Domestik

- Kamis, 23 Juli 2026 | 17:50 WIB
Indonesia Dorong Transisi dari Pengguna Jadi Perancang Standar ESG Berbasis Kondisi Domestik
PARADAPOS.COM - Penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor industri Indonesia kini bukan lagi sekadar mengikuti tren global, melainkan telah menjadi agenda strategis nasional. Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menegaskan bahwa ESG merupakan investasi jangka panjang di sektor keberlanjutan. Hal ini disampaikannya dalam forum Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026. Pemerintah menargetkan transisi peran Indonesia dari sekadar pengguna standar internasional menjadi perancang standar ESG yang otentik dan berbasis kondisi domestik.

Dari Pengguna Menjadi Perancang Standar

Havas menilai langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat daya saing industri nasional. Lebih dari itu, Indonesia juga ingin meningkatkan pengaruhnya dalam pembentukan tata kelola keberlanjutan di tingkat global. Menurutnya, pembaruan arsitektur riset dan pengembangan (R&D) nasional menjadi krusial agar selaras dengan kebutuhan transformasi industri hijau. "Pemerintah Indonesia mendorong transisi peran dari pengguna standar internasional menjadi perancang standar ESG yang otentik dan berbasis kondisi domestik," ujar Havas dalam forum tersebut. Ia kemudian mencontohkan model pendanaan “segitiga” Fraunhofer-Gesellschaft di Jerman yang bisa diadaptasi. Konsep ini menyeimbangkan tiga sumber dana: dana dasar publik, pendanaan proyek kompetitif, dan riset kontrak berbayar dari industri. Dengan begitu, standar yang dihasilkan memiliki kredibilitas keilmuan sekaligus relevansi pasar. "Model semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam membangun ekosistem inovasi yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha secara lebih berkelanjutan," tuturnya. Havas secara tegas membedakan antara adaptasi dan adopsi. Menurutnya, sekadar mengadopsi standar negara-negara maju tidak akan membawa Indonesia pada posisi kepemimpinan di sektor keberlanjutan. "Kepemimpinan lahir dari kemampuan merancang institusi yang menciptakan nilai baru yang inklusif, sehingga pada gilirannya dapat menjadi acuan bagi pihak lain," katanya.

Peluang dari Ekosistem Tropis dan Hilirisasi

Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun keunggulan komparatif, bahkan keunggulan kepemimpinan (leadership advantage). Kuncinya ada pada perancangan standar yang sesuai dengan karakteristik lokal. Mulai dari ekosistem tropis, hilirisasi mineral, hingga kekayaan hayati kawasan maritim nasional. Marine Portfolio Manager GIZ, Yuliana Cahya Wulan, menyoroti pentingnya bagi korporasi besar untuk membangun unit riset dan keberlanjutan secara in-house. Dengan cara ini, metrik ESG yang dihasilkan bersumber langsung dari data produksi, bukan sekadar dari laporan kepatuhan administratif. "Mekanisme pendanaan perlu memberi penghargaan kepada industri yang menghasilkan metodologi, teknologi, dan model bisnis ESG baru, di samping pelaporan yang lebih baik,” ucapnya.

Sinergi Pentahelix dan Peran Pendidikan

Rektor Sampoerna University, Wahdi Salasi April Yudhi, menambahkan bahwa diperlukan sebuah inisiatif besar untuk mempertemukan para pembuat kebijakan dan pemimpin perniagaan. Sinergi pentahelix ini bertujuan menciptakan lompatan dan peluang baru bagi kemajuan pemerintahan serta berbagai sektor strategis di Indonesia. Langkah strategis ini juga didukung oleh posisi unik dan keunggulan dari institusi pendidikan yang terlibat. Kehadiran kampus berskala internasional di kawasan regional dinilai menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan standar sumber daya manusia. "Kami percaya kolaborasi adalah penting untuk mengatasi tantangan kompleks ini, dan mencari kesempatan untuk mengembangkan perkembangan," terangnya. Sementara itu, Staf Ahli Bidang Manajemen Kemenlu, Acep Somantri, menekankan bahwa pengembangan R&D di Indonesia membutuhkan dorongan ekstra agar bisa berdaya saing global. Kunci utamanya ternyata bukan sekadar dukungan regulasi, melainkan komitmen kuat dari para pelaku industri itu sendiri untuk mulai berinvestasi pada inovasi, termasuk mengintegrasikannya dengan standar ESG.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar