PARADAPOS.COM - Harga emas dunia ditutup melemah sekitar dua persen pada perdagangan Kamis waktu setempat, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat di tengah lonjakan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot tercatat turun dua persen menjadi USD4.049,56 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas melemah 2,4 persen ke level USD4.052,40 per troy ons.
Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya pada Emas
Tekanan terhadap harga emas tidak datang dari satu arah. Lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memperkuat sentimen negatif. Brent, acuan harga minyak global, kembali menembus level psikologis USD100 per barel—untuk pertama kalinya sejak 26 Mei lalu. Pemicunya adalah klaim kelompok Houthi di Yaman yang bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Insiden itu langsung mengguncang pasar energi. Perusahaan pelacak pelayaran Kpler memperkirakan kapasitas penyulingan minyak di pantai barat Arab Saudi sebesar 1,9 juta barel per hari berpotensi terganggu jika serangan terus berlanjut. Lebih dari itu, Kpler juga mencatat jumlah kapal yang dipastikan melintasi Selat Hormuz turun drastis hingga sekitar 75 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko distribusi energi dari kawasan Teluk.
Situasi geopolitik semakin panas. Komando Pusat AS dilaporkan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran. Sementara itu, Teheran mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan. Presiden AS Donald Trump mengecam serangan Houthi dan memperingatkan Iran akan dimintai pertanggungjawaban apabila kelompok tersebut kembali menyerang kapal-kapal Arab Saudi.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat
Lonjakan harga minyak yang tiba-tiba ini kembali membuka luka lama: kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar mulai memperhitungkan ulang kemungkinan langkah agresif dari The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli turun menjadi sekitar 66 persen—turun signifikan dari 88 persen hanya sepekan sebelumnya.
Sebaliknya, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin justru meningkat. Angkanya kini mendekati 34 persen, melonjak dari sekitar 12 persen pada pekan lalu. Perubahan ekspektasi ini menjadi angin segar bagi dolar AS, namun menjadi tekanan berat bagi emas.
Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi memang cenderung menjadi sentimen negatif bagi logam mulia. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika suku bunga naik, daya tariknya sebagai aset safe haven berkurang. Ditambah lagi, penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Padahal, harga emas sempat menguat sekitar tiga persen sepanjang perdagangan Selasa dan Rabu. Kenaikan tersebut didorong aksi beli teknikal setelah logam mulia berulang kali menguji level psikologis USD4.000 per troy ons pada pekan lalu.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pakar Hukum Desak Kejagung Libatkan KPK Usut Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Harga Emas Diperkirakan Masih Tertekan, Resistance USD4.125 Jadi Kunci Pelemahan
5 Tempat Makan Ayam Legendaris hingga Kekinian di Bandung yang Wajib Dicoba
IHSG Anjlok 1,42% di Awal Perdagangan, Tertekan Wall Street dan Lonjakan Harga Minyak