PARADAPOS.COM - Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memanggil Duta Besar Malaysia untuk AS, Muhammad Shahrul Ikram Yaakob, guna meminta klarifikasi atas sikap Kuala Lumpur yang menolak mengakui keberadaan Israel. Pemanggilan ini dipicu oleh insiden penolakan masuk seorang warga negara ganda AS-Israel yang hendak mengikuti program Network School di Malaysia. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan sikap lama negaranya dan bukan hal baru. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak AS atau Kedutaan Besar AS di Kuala Lumpur.
Pemicu Pemanggilan: Kasus Network School
Peristiwa ini bermula dari program Network School, sebuah komunitas digital nomad yang didirikan oleh investor AS, Balaji Srinivasan, di Malaysia. Konsepnya menggabungkan hunian dan pembelajaran bersama bagi para pekerja jarak jauh dan pegiat teknologi. Namun, program ini menjadi sorotan tajam setelah pengguna media sosial menuding adanya peserta yang berasal dari Israel.
Otoritas imigrasi Malaysia kemudian melakukan penyelidikan terhadap program tersebut. Hasilnya, seluruh peserta diketahui memiliki dokumen perjalanan yang sah. Meski demikian, pemerintah Malaysia tetap mengambil langkah tegas. Program Network School resmi dihentikan pada Selasa (21/7) waktu setempat.
Sikap Tegas Pemerintah Malaysia
Menlu Mohamad Hasan, dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita Bernama pada Kamis (23/7) malam, menjelaskan kronologi kejadian. "Ada seorang individu berkewarganegaraan ganda, AS dan Israel, yang masuk ke Malaysia menggunakan paspor AS miliknya. Namun, pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa dia juga memegang kewarganegaraan Israel, sehingga kami memintanya untuk pergi," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri Malaysia yang sudah berlangsung lama. "Itu memang sudah menjadi kebijakan Malaysia sejak lama. Kebijakan imigrasi kami tidak mengakui negara Israel atau rezim Zionis. Ini sudah lama menjadi sikap kami," tegas Mohamad Hasan.
Malaysia memang dikenal tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Negara ini juga merupakan salah satu pendukung paling vokal bagi perjuangan Palestina di panggung internasional.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari AS
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah AS maupun Kedutaan Besar AS di Kuala Lumpur mengenai pemanggilan Dubes Shahrul Ikram. Situasi ini masih terus dipantau oleh kalangan diplomat dan pengamat hubungan internasional di kawasan.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Perta Arun Gas Dorong Indonesia Raih Peringkat Pertama Pasar Re-Ekspor LNG Dunia
Inul Daratista Buka Suara Soal Honor Belum Dibayar Stasiun TV, Andre Taulany hingga Iis Dahlia Beri Dukungan
Jampidsus Tegaskan Kasus Febrie Adriansyah Diprioritaskan, Bukan Diistimewakan
Hotman Paris Bantah Keras Rumor Bisnis dengan Eks Jampidsus Febrie, Tegaskan Hubungan Hanya Kuasa Hukum