Dua Anak Usaha PP Rugi Rp364,5 Miliar di Tengah Persiapan Pemerintah Melebur BUMN Karya

- Jumat, 24 Juli 2026 | 16:00 WIB
Dua Anak Usaha PP Rugi Rp364,5 Miliar di Tengah Persiapan Pemerintah Melebur BUMN Karya
PARADAPOS.COM - Dua anak usaha PT PP Tbk (PTPP), emiten konstruksi pelat merah, mencatatkan kinerja keuangan yang memburuk pada semester pertama 2026. Di tengah persiapan pemerintah untuk melebur BUMN Karya, PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO) justru membukukan rugi bersih gabungan sebesar Rp 364,5 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatatkan laba. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara yang tengah mendorong konsolidasi dan restrukturisasi BUMN Karya.

Dua Anak Usaha PTPP Alami Kerugian Bersih

PPRE menjadi salah satu penyumbang utama penurunan kinerja. Pada paruh pertama tahun ini, perseroan membukukan rugi bersih Rp 162,79 miliar. Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mencatatkan laba Rp 4,62 miliar. Menariknya, pendapatan PPRE justru meningkat signifikan sebesar 35,36% menjadi Rp 2,22 triliun dari sebelumnya Rp 1,64 triliun. Namun, kenaikan ini diikuti oleh lonjakan beban pokok pendapatan yang mencapai Rp 1,99 triliun, naik dari Rp 1,32 triliun. Meskipun demikian, perseroan masih mencatatkan laba kotor sebesar Rp 233,69 miliar. Ada beberapa faktor yang memicu kerugian ini. PPRE mencatat bagian rugi dari ventura bersama sebesar Rp 2,71 miliar, sebuah pos yang tidak ada pada tahun sebelumnya. Rinciannya, kerja sama operasi (KSO) PPRE bersama anak usahanya, PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA), masih menghasilkan laba Rp 743,81 juta. Namun, keuntungan tersebut tidak mampu menutup kerugian Rp 3,45 miliar dari kerja sama operasi antara PPTE dan mitranya dalam proyek konstruksi jalan nasional di wilayah perbatasan Sigli, Aceh. Selain itu, kerugian penurunan nilai melonjak drastis menjadi Rp 57,94 miliar dari sebelumnya Rp 3,12 miliar. Beban usaha juga naik menjadi Rp 47,93 miliar dari Rp 46,37 miliar, sementara pendapatan lain-lain justru turun menjadi Rp 29,07 miliar dari Rp 43,07 miliar. Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membuat laba sebelum pajak perseroan berbalik menjadi rugi Rp 85,76 miliar, dari sebelumnya laba Rp 80,46 miliar.

Apa yang Menekan Kinerja PPRO?

Kondisi serupa dialami oleh PT PP Properti Tbk (PPRO). Perusahaan properti ini membukukan rugi bersih Rp 201,71 miliar pada semester pertama 2026, berbalik dari laba Rp 47,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan PPRO sebenarnya naik menjadi Rp 171,18 miliar dari Rp 142,24 miliar. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi Rp 163,94 miliar dari Rp 139,78 miliar, sehingga laba kotor hanya mencapai Rp 7,24 miliar. Tekanan terbesar berasal dari beban lainnya yang mencapai Rp 106,22 miliar. Sebaliknya, pada semester pertama 2025, pos ini justru mencatatkan keuntungan sebesar Rp 176,37 miliar. Selain itu, PPRO membukukan bagian rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp 2,10 miliar, berbalik dari laba Rp 2,62 miliar pada tahun sebelumnya. Akibatnya, rugi sebelum pajak penghasilan membengkak menjadi Rp 206,25 miliar.

PTPP Justru Cetak Kenaikan Laba

Di tengah anjloknya kinerja dua anak usahanya, PTPP justru berhasil meningkatkan laba bersih pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 193,46 miliar, melonjak dari Rp 65,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan laba ini terjadi meskipun pendapatan turun menjadi Rp 5,9 triliun dari Rp 6,7 triliun. Perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 5,19 triliun dari Rp 5,78 triliun, serta memangkas beban usaha menjadi Rp 368,85 miliar dari Rp 409,67 miliar. Di sisi lain, beban keuangan meningkat menjadi Rp 1,04 triliun dari Rp 807,26 miliar. Namun, lonjakan pendapatan lainnya menjadi Rp 877,27 miliar dari Rp 595,69 miliar mampu menopang pertumbuhan laba bersih perseroan. Melihat kontribusi pendapatan diterima dimuka dari masing-masing anak usaha, hingga 30 Juni 2026, PPRO menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 27,65 miliar, meskipun turun tipis dari Rp 28,51 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, PT PP Sinergi Banjaratma mencatat Rp 9,36 miliar, turun dari Rp 10,30 miliar. Sebaliknya, beberapa entitas anak mencatatkan kenaikan. Pendapatan diterima dimuka PT Sinergi Colomadu meningkat menjadi Rp 597,8 juta dari Rp 395,9 juta, sedangkan PT Centurion Perkasa Iman turun menjadi Rp 58,6 juta dari Rp 79,3 juta. Adapun PT PP Semarang Demak relatif stabil di kisaran Rp 5,4 juta. Secara keseluruhan, total pendapatan diterima dimuka sebelum dikurangi porsi jangka panjang mencapai Rp 173,81 miliar, naik dari Rp 129,84 miliar pada akhir 2025.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar