PARADAPOS.COM - Gelombang isu dan narasi negatif yang belakangan menyasar mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, dinilai oleh sejumlah kalangan sebagai buntut dari rekam jejak ketegasannya dalam mengusut mega skandal korupsi. Isu dugaan penemuan aset yang terus bergulir di ruang publik diindikasikan sengaja dimanfaatkan oleh para pengacara koruptor dan kelompok berkepentingan untuk melancarkan strategi "corruptor fights back", demi meruntuhkan marwah Korps Adhyaksa.
Serangan Balik di Puncak Prestasi
Pengamat hukum pidana, Kamilov Sagala, menilai situasi ini bukanlah hal yang asing. Menurutnya, serangan balik semacam ini kerap terjadi ketika sebuah lembaga penegak hukum berada di puncak prestasinya.
“Dari berbagai kasus besar yang ditangani Pidsus, Kejaksaan bisa menyita hingga ratusan triliun rupiah. Prestasi ini mengungguli penegak hukum lain. Maka ketika timbul narasi yang menyerang figur sentralnya seperti Febrie, ini jelas dimanfaatkan lawan untuk membendung agresivitas Kejaksaan,” ujar Kamilov dalam keterangannya, Minggu (26/7).
Gebrakan yang Mengusik Zona Nyaman
Selama dipimpin oleh figur-figur tegas seperti Febrie di lini Pidsus, Kejaksaan Agung berhasil menyelamatkan keuangan negara hingga ratusan triliun rupiah dari kasus-kasus raksasa. Kamilov menambahkan, gebrakan Pidsus Kejagung dalam beberapa tahun terakhir telah mengusik zona nyaman para mafia hukum dan pelaku korupsi kelas kakap.
Oleh karena itu, momentum munculnya isu seputar Febrie dijadikan panggung bagi para tersangka maupun terdakwa korupsi. Tujuannya jelas: membangun opini publik seolah-olah penegakan hukum yang dilakukan Kejaksaan cacat moral.
“Ini adalah upaya membendung keberhasilan yang selama ini diraih. Ibarat kata, prestasi besar yang dibangun bertahun-tahun coba digoyang lewat propaganda dalam sekejap,” tegasnya.
Strategi Meruntuhkan Mental Penyidik
Fenomena "counter attack" ini disinyalir sengaja didesain untuk meruntuhkan psikologis para penyidik Pidsus. Tujuannya agar mereka tidak lagi agresif membongkar skandal-skandal besar yang melibatkan oligarki dan pejabat tinggi. Di lapangan, tekanan semacam ini kerap menjadi ujian bagi konsistensi sebuah institusi penegak hukum.
“Langkah paling nyata untuk menjawab serangan ini adalah dengan konsistensi penegakan hukum. Jika di tingkat banding Jaksa Jampidsus mampu membuktikan secara lugas dan substansial kesalahan para terdakwa, maka kepercayaan publik akan semakin menguat dan serangan balik tersebut akan mentah dengan sendirinya,” pungkas Kamilov.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Kupang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
PDIP Prihatin, Polisi Dalami Dua Perkara Sekaligus dalam Kasus Pengeroyokan Berujung Tewas di Tabanan
Bentrokan di Menteng: 1 Tewas, 4 Luka, Bangunan dan Motor Ludes Terbakar
Polisi Sisir Lokasi Bentrokan Maut di Menteng, Temukan Jejak Darah dan Puing Bangunan Terbakar