Enam Foto Pria Diduga Pelaku Pengeroyokan Pencuri Ayam di Tabanan Viral, Polisi Belum Beri Keterangan Resmi

- Minggu, 26 Juli 2026 | 16:00 WIB
Enam Foto Pria Diduga Pelaku Pengeroyokan Pencuri Ayam di Tabanan Viral, Polisi Belum Beri Keterangan Resmi
PARADAPOS.COM - Enam foto wajah pria yang diduga terlibat dalam aksi main hakim sendiri terhadap seorang pencuri ayam di Tabanan, Bali, beredar luas di media sosial. Peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026 dini hari, di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti. Korban berinisial KD tewas setelah dikeroyok warga yang geram karena maraknya kasus kehilangan ayam. Hingga saat ini, polisi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait identitas maupun status hukum keenam pria tersebut, sementara keluarga korban memilih jalur hukum dan mendesak aparat untuk bertindak adil.

Viral di Media Sosial, Polisi Belum Bicara

Unggahan yang memperlihatkan enam tampang pria tersebut pertama kali mencuat di akun Instagram Bangli Daily. Foto-foto itu sontak memicu perdebatan warganet. Sebagian mendesak polisi segera menangkap para pelaku, sebagian lainnya mengingatkan agar tidak ikut-ikutan menghakimi sebelum ada kepastian hukum. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun pernyataan resmi dari pihak kepolisian yang mengonfirmasi kebenaran foto tersebut. Tidak ada kejelasan apakah keenam pria itu sudah diperiksa, ditetapkan sebagai tersangka, atau justru tidak terkait sama sekali.

Keluarga Korban: Serahkan pada Hukum

Suasana duka masih menyelimuti keluarga korban. Kepala Desa Sidetapa, I Made Sutama, menyampaikan bahwa pihak keluarga memilih untuk tidak main hakim sendiri. Mereka menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum. “Kalau orang mencuri ada pasalnya yang mengatur, kalau orang membunuh juga ada pasalnya yang mengatur,” ujarnya, Minggu (26/7/2026). Sutama menambahkan, harapan terbesar keluarga adalah agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan. “Harapan kami ke depan, kalau ada kejadian seperti ini, serahkan saja kepada penegak hukum. Jangan sampai ada tindakan yang terlalu sadis terhadap siapa pun,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa pihak desa dan keluarga mendukung penuh proses hukum yang transparan. “Yang jelas kami dari pihak keluarga dan desa berharap pelakunya ditangkap. Soal pasal dan hukumannya, itu menjadi kewenangan penegak hukum,” imbuhnya.

Kronologi: Ayam Aduan Picu Amarah Massa

Peristiwa berdarah itu bermula dari dugaan pencurian seekor ayam aduan. Korban, yang diketahui berinisial KD, diduga tepergok warga saat tengah mengambil ayam milik seseorang. Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan bahwa warga setempat sudah lama resah karena ayam mereka kerap hilang. Kemarahan itu memuncak. Korban dikeroyok hingga tewas di tempat. Tak berhenti di situ, sepeda motor yang digunakan korban juga dilaporkan dibakar massa. Video prosesi pemakaman korban kemudian viral di media sosial. Momen paling menyayat hati adalah saat anak bungsu korban menangis histeris ketika mengantar jenazah sang ayah ke peristirahatan terakhir. Adegan itu mengundang simpati luas dari publik.

Ni Luh Djelantik: Kekerasan Tak Pernah Menyelesaikan Masalah

Anggota DPD RI, Ni Luh Djelantik, ikut angkat bicara. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyoroti bahwa tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apa pun. “Terlepas dari dugaan bahwa korban mencuri ayam, tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan menghakimi seseorang hingga kehilangan nyawa. Seorang istri kehilangan suami, anak-anak kehilangan ayahnya. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, justru melahirkan korban baru dan meninggalkan luka yang panjang,” tulisnya. Ia mendesak Polda Bali untuk mengusut tuntas kasus ini secara adil dan transparan. Menurutnya, semua pihak yang terbukti terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Tak hanya menyuarakan keadilan, Ni Luh Djelantik juga bergerak di sisi kemanusiaan. Melalui kolaborasi dengan Relawan 10 Ribu Mimpi, ia menggalang dana untuk meringankan beban keluarga korban. “Terkait dengan keluarga yang ditinggalkan, Relawan 10 Ribu Mimpi telah berkolaborasi dengan Ni Luh Djelantik melakukan penggalangan dana untuk keluarga almarhum. Jika ada hal-hal yang dapat kami lakukan untuk meringankan beban istri dan anak-anak, kami selalu ada untuk mereka,” tulisnya. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menunjukkan kepedulian. Harapannya, bantuan yang terkumpul bisa sedikit meringankan duka yang mendalam bagi istri dan anak-anak korban.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini