Megawati Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Simbol Kesabaran Revolusioner

- Selasa, 28 Juli 2026 | 00:00 WIB
Megawati Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Simbol Kesabaran Revolusioner

PARADAPOS.COM - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, meresmikan monumen patung Kerusuhan Dua Tujuh Juli (Kudatuli) di depan kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7/2026). Monumen ini, yang menggambarkan seorang wanita berteriak sambil memeluk lima orang, disebut Megawati sebagai hasil kontemplasi pribadinya atas cita-cita sang ayah, Bung Karno, dalam memerdekakan Indonesia.

Kontemplasi di Balik Patung Kudatuli

Megawati menjelaskan bahwa gagasan pembangunan monumen ini lahir dari proses perenungan yang panjang. Ia mengaku kerap merenung dan berdoa, mempertanyakan kapan cita-cita Republik Indonesia yang mandiri, kaya raya, serta rakyatnya sejahtera, aman, dan sentosa akan terwujud.

“Kontemplasi itu berpikir, merenung, berdoa. Lalu kita, saya selalu berdoa, mengatakan kepada Allah subhanahuwata'ala, kapan akan berhenti keadaan Republik Indonesia yang dicita-citakan oleh bapak saya menjadi sebuah negara yang mandiri, yang kaya raya, rakyatnya hidupnya sejahtera, aman, dan sentosa,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Megawati menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seniman di balik karya tersebut. “Saudara-saudara sekalian yang saya cintai, secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada seniwati yang saya kenal dan cintai. Saya memanggilnya Mbak Dolorosa Sinaga, yang telah menggambarkan dengan baik terhadap apa yang saya kontemplasikan selama ini,” tuturnya di hadapan para kader dan undangan yang hadir.

Makna Kesabaran Revolusioner

Lebih dari sekadar monumen, Megawati menekankan bahwa patung ini merepresentasikan konsep “kesabaran revolusioner”. Menurutnya, kesabaran semacam ini lahir dari perpaduan antara keyakinan, keteguhan, dan keberanian. Ia menegaskan bahwa dalam kontemplasinya, ia melihat kembali perjalanan hidupnya sendiri dan merangkumnya menjadi pesan yang diwujudkan dalam bentuk patung tersebut.

“Kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner,” jelasnya.

Megawati kemudian menguraikan lebih dalam makna dari kesabaran revolusioner yang ia maksud. Ia menggambarkannya sebagai sikap pantang menyerah saat menghadapi rintangan. “Apa arti kesabaran revolusioner? Adalah kalau kita terbentur oleh penghalang, maka kita tidak jangan berdiam diri. Kita pergilah perlahan-lahan untuk menghindarinya. Kesemuanya itu sebenarnya harus diajarkan kepada para rakyat kita di mana pun mereka berada. Kesemuanya yang empat itu menyatu dalam sebuah keyakinan yang kental, bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang,” pungkasnya.

Suasana di lokasi peresmian tampak khidmat. Monumen berukuran besar itu berdiri kokoh, menjadi pengingat akan peristiwa kelam 27 Juli 1996 sekaligus simbol ketangguhan yang ingin terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar