Pertunjukan Seni ‘Menjembatani Peradaban’ Perkuat 70 Tahun Diplomasi Budaya Indonesia-Maroko

- Selasa, 28 Juli 2026 | 17:25 WIB
Pertunjukan Seni ‘Menjembatani Peradaban’ Perkuat 70 Tahun Diplomasi Budaya Indonesia-Maroko
PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Maroko kembali memperkuat diplomasi budaya melalui pertunjukan seni musik bertajuk “Menjembatani Peradaban Maroko-Indonesia” yang digelar di Jakarta pada Selasa (28/7) malam. Acara ini menjadi simbol persahabatan kedua negara yang telah berlangsung selama 70 tahun, sekaligus menegaskan peran seni sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan masyarakat lintas batas. Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini hadir langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan tersebut.

Seni sebagai Bahasa Universal

Di tengah gemerlap panggung yang dihiasi perpaduan ornamen khas Nusantara dan Maghribi, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pandangannya tentang kekuatan seni. Menurutnya, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan dari persahabatan panjang yang terus berkembang. “Pertemuan seperti ini mengingatkan kita bahwa seni adalah bahasa universal yang berbicara langsung kepada hati manusia dan mampu menyatukan masyarakat lintas batas negara maupun budaya,” ujar Fadli dengan nada penuh keyakinan. Ia kemudian mengajak hadirin merenungkan jejak sejarah yang menghubungkan kedua bangsa. Hubungan Indonesia dan Maroko, jelasnya, telah terjalin sejak abad ke-14 ketika penjelajah asal Maroko, Ibnu Batutah, mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Catatan perjalanan Ibnu Batutah, lanjutnya, turut memperkenalkan Nusantara kepada dunia Islam dan masyarakat internasional melalui berbagai tulisan sejarah yang kini menjadi referensi berharga.

70 Tahun Diplomasi dan Nilai Bersama

Fadli menekankan bahwa hubungan diplomatik yang telah berlangsung selama tujuh dekade ini terus berkembang melalui kerja sama di berbagai bidang, termasuk forum internasional. Kedua negara, tuturnya, secara konsisten menjunjung nilai moderasi, toleransi, dialog antarbudaya, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya. “Hal ini mengingatkan kita bahwa hubungan Indonesia dan Maroko tidak hanya dibangun melalui diplomasi antarnegara, tetapi juga melalui hubungan antarmasyarakat yang telah berlangsung lama, pertukaran ilmu pengetahuan, nilai-nilai spiritual bersama, serta tradisi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa budaya menjadi jembatan yang mempererat hubungan kedua negara. Kolaborasi pertunjukan seni musik tersebut diharapkan semakin memperkuat hubungan bilateral pada masa mendatang.

Pertunjukan yang Menyatukan Dua Budaya

Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Promosi Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan ini dengan menghadirkan pertunjukan seni musik dari Muara Performing Arts dan Melodies of Andalus. Penampilan mereka menjadi representasi dari kekayaan budaya kedua negara yang berpadu dalam harmoni. Suasana di lokasi acara terasa hangat. Para tamu undangan, termasuk kalangan diplomat dan pegiat seni, tampak larut dalam alunan musik yang memadukan instrumen tradisional Indonesia dan Maroko. Sesekali tepuk tangan riuh pecah ketika para penari menampilkan gerakan yang memadukan elemen Timur Tengah dan Nusantara.

Pesan dari Dubes Maroko

Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Republik Indonesia Redouane Houssaini, yang hadir dengan setelan jas rapi, menyampaikan optimismenya terhadap masa depan hubungan kedua negara. Ia menekankan bahwa kegiatan seni ini menjadi upaya nyata untuk mempererat kerja sama budaya. “Kami memiliki hubungan yang sangat baik, nilai-nilai yang sama, serta saling percaya dan saling menghormati antara Maroko dan Indonesia berkat visi Yang Mulia Raja Mohammed VI dan visi Presiden Prabowo. Kami bekerja sama untuk memperkuat diplomasi budaya, diplomasi ekonomi, serta yang paling penting, hubungan antarmasyarakat,” ungkap Houssaini. Pernyataan itu disambut anggukan setuju dari sejumlah hadirin. Bagi banyak pengamat, acara ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengingat bahwa di tengah dinamika geopolitik global, seni dan budaya tetap menjadi jalur diplomasi yang paling manusiawi.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar