Mantan Ketua PDIP Solo Kecewa Jokowi Langgar Janji soal Anak Tak akan Masuk Politik

- Selasa, 28 Juli 2026 | 23:50 WIB
Mantan Ketua PDIP Solo Kecewa Jokowi Langgar Janji soal Anak Tak akan Masuk Politik
PARADAPOS.COM - Mantan Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengaku kecewa berat terhadap sikap Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang bersikeras mencalonkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, dalam Pilkada Solo 2020. Kekecewaan itu muncul karena saat itu PDIP Solo telah memiliki pasangan calon hasil penjaringan, yaitu Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa. Lebih dari itu, Rudy mengingat pernyataan Jokowi sebelumnya yang mengatakan anak-anaknya tidak akan masuk ke dunia politik.

Kekecewaan yang Berakar dari Janji Lama

Menurut Rudy, titik awal kekecewaannya bermula ketika Jokowi melanggar komitmen pribadinya. Ia menyebut bahwa pernyataan Presiden sebelumnya soal anak-anaknya yang tidak akan berpolitik menjadi dasar utama kegundahannya. “Pak Jokowi sudah menyampaikan anaknya tidak akan berpolitik. Pertama kali di situ (kecewa),” ujar Rudy dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang dikutip Rabu, 29 Juli 2026.

Gibran Dinilai Belum Siap

Selain soal janji, Rudy juga mempertanyakan kesiapan Gibran saat dicalonkan sebagai Wali Kota Solo. Ia menilai putra sulung Jokowi itu belum memiliki pengalaman organisasi kemasyarakatan yang memadai. “Satu belum belajar. Yang kedua, Gibran kan belum pernah menjadi pengurus RT, pengurus RW, ketua LPMK kan belum pernah,” jelasnya. Meski demikian, Rudy menegaskan bahwa dirinya tetap tunduk pada keputusan partai. Setelah DPP PDIP memberikan rekomendasi resmi kepada Gibran, ia pun menjalankan instruksi tersebut tanpa banyak protes. “Saya menolak, namun kalau ketua umum memberikan rekomendasi kepada Gibran itu pasti akan saya jalankan,” tuturnya.

Persoalan Konstitusi di Pilpres 2024

Tak hanya soal Pilkada Solo, Rudy juga menyoroti pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Ia mempertanyakan kesesuaian langkah tersebut dengan ketentuan konstitusi. “Konstitusi mengatakan harus pernah jadi gubernur, bukan wali kota,” pungkas Rudy. Dari sudut pandang seorang kader senior yang lama berkecimpung di politik Solo, pernyataan Rudy mencerminkan kegelisahan internal partai. Ia bukan sekadar bicara soal kepatuhan, tetapi juga soal prinsip dan pengalaman yang dinilai belum cukup untuk memikul tanggung jawab besar.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags