Macron Kunjungi Pusat Kebakaran Hutan di Prancis, 220.000 Warga Mengungsi

- Rabu, 29 Juli 2026 | 00:25 WIB
Macron Kunjungi Pusat Kebakaran Hutan di Prancis, 220.000 Warga Mengungsi
PARADAPOS.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi pusat koordinasi penanganan kebakaran hutan di barat daya Prancis, memberikan semangat kepada petugas pemadam yang masih berjuang mengendalikan api. Dalam kunjungannya, ia mengakui proses pemadaman akan berlangsung lama, namun menyatakan optimisme bahwa kebakaran dapat diatasi. Kebakaran yang telah berlangsung sejak pekan lalu ini telah menghanguskan area seluas sekitar empat kali luas Kota Paris dan memaksa sekitar 220.000 warga mengungsi. Meskipun laju penyebaran api berhasil ditekan pada Senin, pemerintah memperingatkan ancaman belum berakhir karena kondisi hutan yang masih sangat kering dan gelombang panas baru yang diperkirakan melanda mulai Selasa. Kunjungan ke Garda Terdepan Di tengah kepulan asap yang masih membubung, Macron berdiri di antara para petugas yang kelelahan. Suaranya terdengar mantap saat ia berbicara tentang skala bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kita sedang menghadapi kebakaran yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Macron. Ia kemudian menambahkan dengan nada penuh keyakinan, "Kita akan memenangkan pertempuran ini bersama," ujarnya, dikutip dari media NPR, Selasa, 28 Juli 2026. Macron juga mengatakan bahwa beberapa pekan ke depan akan menjadi masa yang sulit. Pemerintah terus menyalurkan bantuan bagi para pengungsi. Sementara itu, otoritas Gironde telah melarang penyelenggaraan perkemahan liburan dan meminta wisatawan untuk menunda perjalanan ke kawasan Bordeaux. Pertempuran di Lapangan Di lapangan, situasi jauh dari terkendali. Petugas pemadam menggunakan alat berat untuk membuat jalur penghalang, berusaha memperlambat penyebaran api yang sempat mendekati pinggiran Bordeaux. Kepala Dinas Pemadam Gironde menggambarkan situasi yang mencekam. Menurutnya, kebakaran telah berubah menjadi badai api yang sulit diprediksi, bahkan memicu sambaran petir yang kemudian memunculkan titik-titik api baru. Solidaritas internasional pun mengalir. Sekitar 12 negara telah mengirimkan pesawat, helikopter, personel pemadam kebakaran, serta bantuan lainnya ke Prancis dan Spanyol. Secara keseluruhan, lebih dari 330.000 orang telah mengungsi akibat kebakaran hutan di kedua negara tersebut. Gelombang Panas dan Kebakaran Hutan Di Spanyol, kobaran api tak kalah dahsyat. Kebakaran besar melanda kawasan sekitar Madrid dan Valencia. Sebanyak 79.000 orang dievakuasi, sementara 30.000 lainnya diminta tetap berada di rumah untuk alasan keamanan. Perdana Menteri Pedro Sánchez angkat bicara. Ia menegaskan bahwa bencana ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. "Apa yang sedang kita alami bukanlah serangkaian insiden yang berdiri sendiri. Ini adalah konsekuensi dari darurat iklim yang membuat kebakaran hutan semakin ganas dan gelombang panas semakin sering terjadi," ujarnya. Kebakaran di Provinsi Ávila, sebelah barat Madrid, kini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah Spanyol. Luas area terbakar mencapai sekitar 500 kilometer persegi. Menteri Ekologi Sara Aagesen mengungkapkan data yang mencengangkan: luas kebakaran hutan di Spanyol sepanjang tahun ini telah mencapai sekitar 1.530 kilometer persegi. Angka itu enam kali lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2025. Italia Tak Luput dari Amukan Api Italia juga menghadapi situasi serupa. Kebakaran hutan melanda wilayah Puglia bagian selatan. Dipicu angin kencang sejak Minggu, api memaksa sekitar 300 wisatawan dievakuasi dari pantai dan area perkemahan di dekat Peschici. Penjaga pantai bergerak cepat. Mereka mengevakuasi para wisatawan melalui jalur laut menuju Kota Vieste, yang kemudian dijadikan lokasi penampungan sementara. Hingga Senin, tiga pesawat pengebom air Canadair bersama petugas di darat masih berupaya memadamkan api. Kobaran api ini membangkitkan kembali kenangan pahit akan kebakaran besar di kawasan tersebut pada tahun 2007. (Keysa Qanita)

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar