PARADAPOS.COM - Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada awal pekan ini mengguncang pasar dan memicu spekulasi luas. Ketegangan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait strategi pertumbuhan ekonomi disebut sebagai pemicu utama, meskipun alasan resmi yang disampaikan pemerintah adalah “alasan pribadi”. Perry diketahui tidak hadir saat pengumuman tersebut disampaikan oleh Deputi Senior BI Destry Damayanti bersama perwakilan Presiden Prabowo Subianto pada Senin lalu.
Perselisihan Kebijakan Likuiditas dan Nilai Tukar
Menurut tiga sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang situasi ini, perselisihan antara Purbaya dan Perry telah berlangsung selama berbulan-bulan. Ketiga sumber itu meminta namanya tidak diungkapkan karena khawatir akan dampaknya. Mereka tidak menyatakan secara pasti apakah ketidaksepakatan dengan Purbaya menjadi penyebab langsung pengunduran diri Perry.
Namun, perbedaan pandangan antara keduanya disebut semakin memanas akhir-akhir ini, khususnya menyangkut kebijakan likuiditas dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi serta nilai tukar rupiah. Salah seorang sumber menggambarkan bahwa pemikiran Menteri Keuangan yang menginginkan likuiditas berlimpah bertentangan langsung dengan upaya BI mengelola stabilitas nilai tukar.
“Purbaya menginginkan likuiditas yang melimpah, tetapi situasi ini akan memberikan tekanan pada rupiah,” ungkap orang pertama itu. Ia menambahkan bahwa Purbaya memiliki pengaruh signifikan terhadap presiden.
Juru bicara Purbaya, presiden, dan Bank Indonesia tidak memberikan komentar terkait sumber tersebut. Perry Warjiyo sendiri tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan. Kementerian Keuangan juga menolak berkomentar.
Kebijakan Moneter di Bawah Tekanan
Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebanyak 100 basis poin sejak Mei melalui kebijakan pengetatan. Langkah ini dimaksudkan untuk membuat investasi dalam aset rupiah lebih menarik bagi investor asing, sekaligus mendukung penguatan nilai tukar. Dalam praktiknya, bank sentral biasanya menjaga kebijakan likuiditas relatif ketat selama masa depresiasi rupiah guna mencegah spekulasi akibat kelebihan likuiditas.
Di sisi lain, Purbaya secara teratur mengkritik kebijakan BI sejak ia diangkat pada September tahun lalu. Ia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi G20 senilai 1,4 triliun dolar AS menuju angka 8 persen, dari pertumbuhan stabil 5 persen yang selama ini terjaga. Target tersebut merupakan janji kampanye utama Prabowo.
Sumber kedua mengatakan kepada Reuters bahwa BI sudah waspada terhadap upaya Purbaya yang sering memindahkan cadangan kas ke bank-bank milik negara. Langkah ini dinilai dapat menyebabkan ketidaksesuaian jatuh tempo. Beberapa hari setelah menjabat, Purbaya menyuntikkan 200 triliun rupiah (setara 11,11 miliar dolar AS) ke bank-bank BUMN. Dana tersebut sebelumnya dikelola di bank sentral.
Pada awal Juni, Purbaya sempat setuju dengan Perry untuk memindahkan dana tersebut sepenuhnya kembali ke bank sentral sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan BI dalam mempertahankan rupiah yang jatuh. Namun, sekitar dua pekan kemudian, ia kembali menyuntikkan dana negara ke bank-bank tersebut dengan alasan bahwa kebijakan awalnya sudah benar.
“Meskipun para pejabat BI tidak setuju dengan keputusan Purbaya untuk memberikan likuiditas berlebihan, para pejabat di bank sentral juga menganggap penarikan dana secara tiba-tiba berbahaya sehingga dapat memicu lonjakan suku bunga antar bank, mempersulit kebijakan BI,” jelas orang kedua tersebut.
Proses Pengunduran Diri yang Mendadak
Sumber kedua mengungkapkan bahwa para pejabat BI berupaya keras mengonfirmasi rumor pengunduran diri Perry selama akhir pekan. Deputi Senior Destry bahkan mempersingkat perjalanan kerja ke Bali untuk bergegas kembali ke Jakarta. Pada Senin pagi, Perry Warjiyo berbicara kepada dewan gubernur dalam pertemuan daring.
“Komunikasi eksternal yang beredar menyatakan bahwa dia mengundurkan diri secara sukarela,” tambah sumber tersebut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Perry mundur karena alasan pribadi. Perry diketahui tidak hadir saat pengumuman pengunduran diri yang disampaikan oleh Deputi Senior BI Destry Damayanti bersama pembantu Presiden Prabowo Subianto.
Pengganti Perry Warjiyo
Secara terpisah, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan sosok pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Prasetyo menjelaskan bahwa Presiden Prabowo baru menerima surat pengunduran diri Perry pada Ahad (26/7), sehingga belum ada pembahasan mengenai calon definitif.
“Belum. Dalam waktu satu hari ini dia (Presiden Prabowo) langsung mau mengajukan calon definitif, kan belum. Dan kebetulan Undang-Undang BI mengatur bahwa kekosongan jabatan itu bisa langsung secara otomatis dijalankan oleh pejabat gubernur sementara,” kata Prasetyo dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin.
Prasetyo menegaskan bahwa jabatan Gubernur BI untuk sementara akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Hal ini sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang telah beberapa kali diubah, terakhir melalui UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
“Untuk selanjutnya sesuai dengan Undang-Undang Bank Indonesia, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai pejabat gubernur sementara. Di dalam catatan yang dimaksud dengan Deputi Gubernur Senior adalah Ibu Destry Damayanti,” ujar Prasetyo.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tetap mengikuti arahan Presiden Prabowo terkait isu namanya masuk dalam bursa calon Gubernur BI. “Kami ikuti perintah Bapak Presiden,” kata Purbaya saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa.
Ia mengaku belum mengetahui detail nama-nama kandidat calon Gubernur BI usai Perry Warjiyo mengundurkan diri. “Belum, belum ada perintah,” ujarnya.
Pandangan Ekonom: Figur Kompeten Sangat Diperlukan
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Falianty menilai bahwa pengganti Gubernur BI harus berasal dari figur yang memahami sektor keuangan. Hal ini diperlukan agar independensi dan kredibilitas bank sentral tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Menurut Telisa, jabatan Gubernur BI tidak bisa diisi oleh sosok yang tidak memiliki kompetensi di bidang moneter dan keuangan. Sebab, bank sentral memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah, inflasi, serta kepercayaan pelaku pasar.
“Kita tetap berharap memilih figur yang kompeten, harus orang-orang yang bergerak di sektor keuangan. Gubernur Bank Sentral harus memiliki jam terbang dan pengalaman yang sangat luar biasa karena akan mengawal sektor keuangan,” ujar Telisa dalam acara Forekbank Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia mengingatkan bahwa kebijakan moneter pada dasarnya harus berorientasi menjaga stabilitas. Menurutnya, apabila kebijakan moneter terlalu banyak dipengaruhi kepentingan di luar mandat utamanya, kredibilitas bank sentral dapat tergerus. Telisa mencontohkan pengalaman sejumlah negara yang menghadapi gejolak pasar ketika independensi bank sentral dipertanyakan. Karena itu, Indonesia perlu menjaga kepercayaan investor dengan tetap menempatkan profesionalisme sebagai pertimbangan utama dalam menentukan pimpinan BI.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Jakota Resmi Terapkan Pembayaran Tiket MRT dengan Kartu Kredit Nirkontak, Pertama di Indonesia
Kemensos Beri Pendampingan dan Bantuan ke Keluarga Satpam yang Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur
Nissan Fairlady Z Resmi Debut di Indonesia pada GIIAS 2026, Hadirkan Mesin V6 Twin-Turbo 400 HP
KPK Bawa Enam Orang Hasil OTT Pemalang ke Jakarta, Termasuk Istri Bupati dan Uang Rp2 Miliar