PARADAPOS.COM - Bangun tidur di pagi hari dengan tubuh segar dan sehat adalah anugerah yang kerap luput dari rasa syukur. Dalam pandangan Islam, momen terbangun setelah tidur bukanlah sekadar rutinitas, melainkan bentuk "penghidupan kembali" setelah Allah Swt. "mematikan" manusia sementara waktu melalui tidur. Untuk menyambut kesempatan baru ini, Islam mengajarkan adab dan doa khusus agar setiap pagi tidak menjadi rutinitas biasa, melainkan awal yang penuh kesadaran spiritual. Berdasarkan penjelasan dari NU Online, berikut doa dan adab bangun tidur yang dianjurkan.
Doa Bangun Tidur yang Dianjurkan
Begitu mata terbuka dan kesadaran kembali, seorang Muslim dianjurkan untuk mengusap bekas tidur di wajah sambil membaca doa. Doa ini merupakan ungkapan syukur atas nikmat kehidupan yang dikembalikan setelah "kematian" sementara di malam hari. Berikut lafalnya:
Alhamdulillahil ladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyur
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menghidupkan kami setelah Ia mematikan kami. Kepada-Nyalah kebangkitan hari Kiamat." (Lihat: Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Al-'Aidrus, Jakarta)
Doa ini pendek namun sarat makna, mengingatkan bahwa setiap helaan napas di pagi hari adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Empat Adab Bangun Tidur dari Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali merinci beberapa adab yang sebaiknya diamalkan saat terbangun dari tidur. Adab-adab ini bukan sekadar tata krama, melainkan latihan spiritual untuk mengarahkan hati sejak detik pertama kesadaran kembali.
1. Berusaha Bangun Sebelum Subuh
Langkah pertama yang ditekankan adalah berusaha keras untuk terjaga sebelum masuk waktu Subuh. Tujuannya jelas: memberi ruang bagi ibadah malam atau setidaknya bersiap menyambut salat Subuh dengan tenang. Ini bukan soal memaksakan diri, melainkan melatih disiplin batin.
2. Mengawali Pagi dengan Zikir
Begitu sadar, hal pertama yang terlintas di lisan dan hati sebaiknya adalah zikir mengingat Allah. Imam Al-Ghazali menekankan agar pikiran tidak langsung melayang pada urusan duniawi—seperti pekerjaan, tagihan, atau masalah sehari-hari. Momen hening ini adalah waktu emas untuk membangun koneksi spiritual sebelum hiruk-pikuk hari dimulai.
3. Membaca Doa Bangun Tidur yang Lebih Panjang
Selain doa singkat di atas, ada versi doa yang lebih lengkap dan dianjurkan untuk dibaca. Doa ini mencakup permohonan perlindungan dari keburukan, baik yang dilakukan sendiri maupun yang menimpa dari orang lain. Berikut lafalnya:
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nyalah kami kembali. Aku memasuki pagi, sedang kekuasaan tetap hanyalah milik Allah, kemuliaan dan kekuasaan milik Allah pula. (Dialah) Tuhan seru sekalian alam. Aku menyongsong pagi dengan kesucian Islam dan dengan kalimat ikhlas (syahadat) serta dengan agama (yang dibawa) Nabi Muhammad saw. Juga dengan agama Bapak kami Ibrahim dengan berserah diri, serta bukanlah kami termasuk golongan orang-orang musyrik. Ya Allah, dengan-Mu lah kami memasuki pagi dan sore, dengan-Mu lah kami hidup dan mati, dan kepada-Mu lah kami kembali. Ya Allah, kami mohon bangkitkanlah kami di hari ini pada kebaikan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari mengerjakan keburukan atau mempekerjakan orang Islam pada keburukan dan dipekerjakan orang untuk keburukan. Aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang ada di dalamnya, serta memohon perlindungan dari kejelekan hari ini dan kejelekan yang ada di dalamnya."
Doa ini mengajarkan bahwa kebaikan hari tidak datang dengan sendirinya; ia harus diminta dan diupayakan sejak awal.
4. Meniatkan Pakaian untuk Menutup Aurat
Ketika hendak mengenakan pakaian, niatkanlah semata-mata untuk menjalankan perintah Allah dalam menutup aurat. Imam Al-Ghazali mengingatkan agar niat ini tidak tercampuri kesombongan atau keinginan untuk dipamerkan. Pakaian, dalam pandangan ini, adalah bentuk ketaatan, bukan sekadar gaya.
Pagi Bukan Sekadar Transisi Fisik
Keempat adab di atas menunjukkan bahwa momen bangun pagi memiliki dimensi spiritual yang dalam. Ia bukan sekadar transisi dari tidur ke aktivitas harian, melainkan awal yang penuh makna jika diisi dengan zikir dan doa yang tepat. Dengan membiasakan adab ini setiap hari, diharapkan setiap Muslim dapat tergolong sebagai hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat istirahat di malam hari dan siap memanfaatkan kesempatan baru yang Allah berikan di setiap pagi.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kejagung Periksa Tujuh Perusahaan Terkait Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Pemkab Agam Koordinasikan Pemulangan Warga yang Dieksploitasi Sindikat Penipuan di Myanmar
Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Banding Vonis 2 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Nilai Putusan Tak Penuhi Fakta
Jetour Resmi Luncurkan SUV PHEV T2 i-DM di GIIAS 2026, Klaim Jarak Tempuh Lebih 1.200 Km