Produksi Susu Sapi Perah di Semarang Turun Akibat Kekeringan, Peternak Andalkan Pakan Alternatif

- Kamis, 30 Juli 2026 | 07:25 WIB
Produksi Susu Sapi Perah di Semarang Turun Akibat Kekeringan, Peternak Andalkan Pakan Alternatif
PARADAPOS.COM - Musim kemarau yang melanda Kota Semarang mulai berdampak nyata pada sektor peternakan sapi perah. Ketersediaan hijauan pakan yang menurun drastis menyebabkan produksi susu di sejumlah kelompok tani ternak ikut berkurang. Meski volume produksi merosot, para peternak memastikan kualitas susu tetap terjaga berkat pemberian pakan tambahan dan pengawasan rutin. Fenomena ini dirasakan langsung oleh Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu di Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati.

Produksi Susu Anjlok Akibat Keterbatasan Hijauan

Ketua Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu, Nursi, mengungkapkan bahwa penurunan produksi sudah terasa dalam beberapa pekan terakhir. Pada musim hujan, rata-rata produksi susu sapi perah di kelompoknya mencapai 15 liter per ekor per hari. Namun, kini angka tersebut merosot. "Kalau musim hujan, produksi bisa 15 liter per ekor per hari. Sekarang karena hijauan susah, turun sekitar satu setengah liter," ujar Nursi, Kamis, 30 Juli 2026. Penurunan sekitar 1,5 liter per ekor per hari ini, menurutnya, bukanlah angka yang kecil jika dikalkulasi dengan jumlah total sapi perah yang dimiliki kelompok tersebut. Para peternak pun harus bekerja ekstra untuk memastikan sapi-sapi mereka tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Strategi Peternak: Pakan Alternatif dan Uji Laboratorium

Untuk menjaga kondisi ternak di tengah sulitnya hijauan, peternak tidak tinggal diam. Mereka menggunakan pakan tambahan berupa ampas tahu, bungkil kelapa, dan konsentrat sebagai pengganti sebagian hijauan yang sulit diperoleh selama musim kemarau. Langkah ini diambil agar sapi tetap produktif meskipun dalam tekanan cuaca. Meski produksi menurun, kualitas susu tetap menjadi prioritas utama. Para peternak memastikan hal ini dengan mengandalkan uji laboratorium yang dilakukan secara berkala oleh dinas terkait setiap tiga bulan sekali. Hasilnya, hingga saat ini kualitas susu segar yang dihasilkan dinilai masih memenuhi standar. Saat ini, produksi susu rata-rata masih bertahan di angka 15 liter per ekor per hari. Menariknya, pada awal masa laktasi, produksi bahkan dapat mencapai 20 liter per hari. Artinya, potensi produksi sebenarnya masih besar, hanya saja terkendala oleh faktor musim.

Kendala Air Hambat Pertumbuhan Rumput Pakan

Upaya mandiri juga dilakukan para peternak dengan tetap menanam rumput pakan sendiri. Namun, pertumbuhan tanaman melambat akibat keterbatasan air. Dampaknya cukup signifikan: masa panen rumput yang biasanya hanya sebulan sekali kini molor menjadi sekitar dua bulan sekali. Kondisi ini menambah beban peternak yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakan tambahan. Meskipun volume produksi berkurang, untungnya hingga saat ini tidak ada keluhan dari pembeli. Kualitas susu yang dihasilkan tetap dipercaya. Peternak berharap musim kemarau segera berakhir agar produksi susu dapat kembali normal. Mereka sadar, ketergantungan pada alam adalah risiko yang harus dihadapi, namun dengan manajemen pakan yang baik, kualitas produk tetap bisa dijaga.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar