Anak di Aceh Barat Nekat Titip Jembatan Tali Baja Demi Sekolah, Guru Pun Mendampingi

- Kamis, 30 Juli 2026 | 13:50 WIB
Anak di Aceh Barat Nekat Titip Jembatan Tali Baja Demi Sekolah, Guru Pun Mendampingi
PARADAPOS.COM - Setiap pagi, anak-anak di Desa Sikundo, Kabupaten Aceh Barat, harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi bisa duduk di bangku sekolah. Satu-satunya akses yang menghubungkan dusun mereka dengan gedung sekolah adalah jembatan tali baja sepanjang sekitar 150 meter yang membentang di atas sungai deras. Para guru pun turun tangan, mendampingi dan menguatkan murid-muridnya saat meniti jembatan yang goyah itu, melawan rasa takut yang menyergap setiap langkah. Perjuangan Melewati Jembatan Tali Tangan-tangan mungil dan kaki-kaki kecil para siswa itu terlihat hati-hati mencengkeram erat jembatan tali baja di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen. Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar soal jarak yang jauh, melainkan juga akses yang penuh dengan risiko. Di bawah jembatan, aliran sungai deras mengalir, siap menerjang jika ada satu langkah yang salah. Meski dihadapkan pada situasi genting, semangat belajar anak-anak ini tidak pernah padam. Setiap hari, bersama para guru, mereka nekat meniti jembatan yang sama. Bagi mereka, ini bukan pilihan, melainkan satu-satunya cara untuk terus mengenyam pendidikan. Suara dari Lapangan “Ya agak banyak rintangan kayak gitu. Karena kami harus mengajar di sebelah sana, karena dikondisikan sekolah masih dalam renovasi. Kalaupun kami sekolah di sini, ya itulah kendala yang di sebelah sana anak-anak kan. Kami harus nekat, maksudnya mengejar anak-anak yang di sebelah sana,” ungkap Ruqiah, seorang guru di Aceh Barat, dalam tayangan "Primetime News Metro TV", Kamis, 30 Juli 2026. Tuturnya mencerminkan kegigihan yang terpaksa harus dimiliki para tenaga pendidik di pelosok. Sejarah dan Harapan di Balik Akses Berbahaya Sebelumnya, warga memiliki jembatan gantung yang menjadi urat nadi penghubung antara permukiman dan sekolah. Namun, jembatan itu hanyut diterjang banjir bandang pada November 2025 lalu. Sejak saat itu, jembatan tali baja inilah yang menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan Dusun Salah Sare dan Dusun Durian. Meskipun penuh risiko, para guru dan siswa tetap melintasi jembatan ini setiap hari. Tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk mencapai sekolah. Hingga kini, warga masih menantikan pembangunan kembali jembatan permanen. Mereka berharap tidak ada lagi yang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan hak dasar atas pendidikan.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar