BRIN Peringatkan Super El Nino Agustus 2026 Berpotensi Samai Intensitas 2015

- Jumat, 31 Juli 2026 | 11:50 WIB
BRIN Peringatkan Super El Nino Agustus 2026 Berpotensi Samai Intensitas 2015

PARADAPOS.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi terjadinya Super El Nino pada Agustus 2026 dengan intensitas yang diprediksi menyamai puncak fenomena serupa di tahun 2015. Pernyataan ini mengemuka di tengah pengamatan terhadap indikator iklim global yang menunjukkan penguatan signifikan, memicu kekhawatiran akan dampak luas bagi sektor pertanian, kesehatan, hingga rantai pasok dunia. Para ahli memantau perkembangan ini sebagai ancaman nyata yang membutuhkan langkah antisipasi dini. Prediksi Kekuatan dan Indikator Iklim Peneliti iklim BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa kekuatan El Nino saat ini telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun hingga 26 Juli 2026, anomali suhu muka laut tercatat sebesar 1,94 derajat Celcius. Nilai ini dinilai sudah berada di ambang batas menuju kategori Super atau yang kerap dijuluki 'Godzilla'. "Intensitas El Nino di bulan Agustus juga diprediksi melampaui 2,5°C, setara dengan puncak El Nino 2015," ujar Erma melalui akun media sosialnya, Jumat, 31 Juli 2026. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa probabilitas terbentuknya fenomena ini sangat tinggi. Analisis terhadap berbagai model iklim menunjukkan konsistensi yang kuat. "Jadi hampir pasti (99%), Super El Nino terbentuk pada bulan Agustus 2026," jelasnya. Selain suhu muka laut, indikator atmosfer juga menunjukkan sinyal yang mendukung penguatan fenomena ini. Indeks Osilasi Selatan (SOI) memperlihatkan perbedaan tekanan udara yang ekstrem antara Darwin dan Tahiti, mengindikasikan melemahnya sirkulasi Walker di Samudra Pasifik. "Indikasi kekuatannya untuk menciptakan awan dan hujan, serta badai siklon yang semakin kuat," katanya menambahkan. Dampak Berlapis Bagi Manusia dan Ekosistem Laporan dari World Economic Forum (WEF) menyoroti bahwa dampak Super El Nino ini akan sangat beragam dan berlapis. Risiko awal yang muncul bersifat meteorologis, yaitu pergeseran pola curah hujan dan suhu di berbagai benua. Kondisi ini secara langsung meningkatkan probabilitas kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah, sementara di sisi lain memicu banjir besar di wilayah lainnya. "Petani, nelayan, dan produsen skala kecil sering kali menerima dampak pertama," tulis laporan tersebut. Dampak yang ditimbulkan pun bervariasi tergantung pada letak geografis. Asia Tenggara dan Australia seringkali menjadi lebih kering, sementara sebagian Afrika Timur dan Amerika Selatan cenderung menghadapi risiko banjir yang lebih tinggi. Fenomena ini juga memberikan tekanan serius pada ekosistem. Suhu laut yang lebih hangat dapat memperparah pemutihan karang dan mengganggu populasi perikanan. Di sisi lain, banjir yang terjadi dapat menghancurkan habitat alami dan menyebarkan polutan ke lingkungan. Sementara itu, kekeringan dan panas yang berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan, merusak area hutan, dan mengurangi debit aliran sungai. Kerugian ekologis ini pada akhirnya berdampak pada mata pencaharian serta keanekaragaman hayati, karena perikanan, pariwisata, pertanian, dan sistem air semuanya bergantung pada ekosistem yang berfungsi. Ketika alam mengalami degradasi, ketahanan ekonomi pun ikut melemah. Ancaman Kesehatan Masyarakat Implikasi kesehatan dari Super El Nino sama seriusnya dengan dampak lingkungan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa peristiwa El Nino dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Mulai dari stres panas, paparan asap kebakaran hutan, penyakit yang ditularkan melalui vektor, hingga dampak kesehatan terkait kekeringan dan guncangan gizi. Efek yang tepat sangat bergantung pada intensitas, musim, dan kerentanan lokal. Di wilayah yang sudah panas, El Nino dapat mendorong suhu melampaui ambang batas aman bagi pekerja luar ruangan, lansia, anak-anak, dan mereka yang memiliki penyakit kronis. Panas juga menurunkan kualitas tidur, produktivitas, dan pembelajaran, serta membebani sistem kesehatan pada saat yang sama mereka mungkin menghadapi wabah penyakit menular, menghirup asap, atau kekurangan gizi. Dengan demikian, El Nino harus dipandang sebagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat sekaligus bahaya iklim. Tekanan pada Sektor Pertanian dan Rantai Pasok El Nino diprediksi akan semakin mengganggu pasar komoditas yang sudah menunjukkan dampak risiko ekonomi. Beras menjadi indikator penting karena merupakan komoditas yang diperdagangkan dan kebutuhan sehari-hari bagi miliaran orang. Gangguan sekecil apa pun pada produksi dapat menaikkan harga, memperbesar tagihan impor, dan memaksa rumah tangga berpenghasilan rendah untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan pokok. Rantai pasokan global juga menghadapi gangguan akibat El Nino. Kekeringan menurunkan permukaan sungai dan menghambat transportasi darat; banjir merusak jalan, pelabuhan, gudang, dan pabrik pengolahan; dan panas mengurangi produktivitas tenaga kerja di berbagai sektor. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan karena biaya input meningkat tepat ketika risiko iklim semakin intensif.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler