PARADAPOS.COM - Washington — Spanyol berhasil membalikkan arus masuk migran dalam skala besar di kantong Ceuta, Afrika Utara, setelah hampir seluruh dari sekitar 50.000 orang yang menyeberang sejak Kamis pagi kembali ke Maroko secara sukarela. Kementerian Dalam Negeri Spanyol melaporkan hingga Jumat pukul 18.00 waktu setempat, sekitar 48.300 orang telah kembali, sementara sedikitnya 57 jenazah ditemukan di sisi perbatasan. Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut peristiwa ini sebagai pelanggaran kedaulatan dan memicu ketegangan diplomatik dengan Italia di tingkat Uni Eropa. Gelombang Penyeberangan dan Proses Pemulangan Angka pastinya masih menjadi perdebatan. Kepala Pemerintahan Ceuta, Juan Jesus Vivas, memperkirakan jumlah penyeberang dalam dua hari terakhir bisa mencapai 60.000 orang—lebih tinggi dari catatan resmi Kementerian Dalam Negeri. Perbedaan data ini wajar terjadi di tengah kekacauan di lapangan, di mana ribuan orang bergerak melalui jalur darat dan laut secara bersamaan. Proses pemulangan berlangsung cepat namun diwarnai duka. Otoritas Spanyol mengonfirmasi sedikitnya 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan Ceuta. Pemerintah memperingatkan angka tersebut berpotensi bertambah karena diduga masih ada korban di wilayah Maroko yang belum teridentifikasi. Sebagian korban tenggelam saat mencoba menyeberang melalui laut, sementara lainnya tewas terhimpit ketika memanjat pemecah ombak yang menjadi bagian dari pagar perbatasan. Bentrokan di Perbatasan Situasi di lapangan tidak sepenuhnya mulus. Pasukan keamanan Maroko dilaporkan menggunakan pentungan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang berusaha memaksa masuk melalui gerbang perbatasan. Jurnalis Reuters di lokasi menyaksikan polisi antihuru-hara Maroko menembakkan gas air mata ke arah massa, sementara kendaraan meriam air dikerahkan untuk mengendalikan situasi. Sisa-sisa bus dan beberapa mobil yang terbakar terlihat berserakan di sekitar lokasi bentrokan—sebuah pemandangan yang menggambarkan betapa tegangnya hari-hari itu. Di sisi Spanyol, kendaraan militer ditempatkan di sepanjang pagar perbatasan. Ratusan migran tampak berjalan kembali ke Maroko melalui pos pemeriksaan maupun celah-celah pagar. Banyak dari mereka mengaku tidak memperoleh makanan maupun tempat berlindung selama berada di Ceuta, sehingga memilih untuk pulang. "Sejujurnya saya bahkan tidak tahu mengapa saya datang, dan sekarang saya memutuskan kembali," kata seorang pemuda asal Tangier kepada Reuters. Ayman, warga Larache berusia 20 tahun, memiliki cerita berbeda. Ia mengaku berenang selama lima jam untuk mencapai Ceuta. "Tidak ada makanan di dalam Ceuta dan kami diusir dengan keras oleh tentara Spanyol," ujarnya. Picu Ketegangan di Uni Eropa Krisis ini segera merambat ke panggung politik Eropa. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengunjungi Ceuta pada Jumat dan menegaskan bahwa gelombang penyeberangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol. Ia mengatakan pemerintah mempercepat proses pemulangan para migran yang masuk secara ilegal dengan kerja sama penuh dari pemerintah Maroko. Namun, langkah Italia justru memicu perbedaan pandangan. Roma mengumumkan penangguhan sementara penerapan aturan kawasan bebas perbatasan Schengen untuk perjalanan udara dan laut dari Spanyol. Pemerintah Spanyol menilai langkah tersebut bertentangan dengan perjanjian Uni Eropa. Ketegangan semakin memuncak setelah Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan kebijakan amnesti Spanyol telah "mendorong perdagangan manusia." Pemerintah Spanyol merespons dengan memanggil Duta Besar Italia sebagai bentuk protes resmi. Partai-partai sayap kanan di sejumlah negara Eropa juga ikut menyalahkan kebijakan migrasi Spanyol yang dinilai lebih longgar, termasuk program amnesti bagi ratusan ribu migran pada tahun ini. Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika. Kedua wilayah tersebut kerap menjadi tujuan migran yang ingin memasuki Eropa, meski skala gelombang migrasi kali ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan migrasi tidak pernah selesai—hanya berganti wajah dan skala.
Artikel Terkait
Banjir Bandang di Assam India Timur Laut Tewaskan 82 Orang, Lebih dari 1,1 Juta Jiwa Terdampak
Maresca Pimpin Latihan Perdana Manchester City di Hong Kong, Tegaskan Tak Akan Tiru Gaya Guardiola
Polda Metro Jaya Sita 27,96 Kg Ganja dari Rumah Kontrakan di Cipinang, Tiga Tersangka Diamankan
BAIC Resmi Luncurkan EV Pertama di Indonesia, Targetkan 1.000 Unit hingga Akhir 2026