PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat mencatat pelemahan lebih dari satu persen sepanjang Juli 2026, menjadi kinerja bulanan terburuk sejak April. Indeks dolar AS (DXY) ditutup di level 99,83 atau turun 1,3 persen, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan aksi jual obligasi pemerintah AS. Pelemahan ini terjadi seiring data inflasi yang melambat, namun tekanan baru muncul dari kenaikan harga minyak dunia. Di sisi lain, yen Jepang menguat signifikan setelah dugaan intervensi pemerintah, sementara euro dan poundsterling mencatat penguatan tipis terhadap dolar. Tekanan di Pekan Terakhir dan Sorotan Data Inflasi Sepanjang bulan lalu, sebagian besar pelemahan dolar justru terkonsentrasi pada pekan terakhir Juli. Momentum tersebut bertepatan dengan meningkatnya aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat, sebuah sinyal klasik yang kerap kali mencerminkan kegelisahan investor. Mereka tampak cemas terhadap prospek suku bunga ke depan, terutama setelah serangkaian data ekonomi menunjukkan sinyal yang saling bertentangan. Pasar memang mencermati sejumlah indikator inflasi AS yang menunjukkan perlambatan selama Juli. Penurunan terlihat pada indeks harga konsumen (CPI), indeks harga produsen (PPI), serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi acuan utama Federal Reserve. Namun, perlambatan tersebut dinilai belum memberikan kepastian terhadap arah inflasi jangka menengah. Justru, kenaikan kembali harga minyak dunia sepanjang Juli memunculkan risiko tekanan inflasi baru. Hal ini secara langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter, membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap langkah The Fed selanjutnya. Sikap The Fed yang Berbeda Pendapat Federal Open Market Committee (FOMC) memang mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian yang masih tinggi. Meski demikian, suasana di dalam ruang rapat tampaknya tidak sepenuhnya harmonis. Tiga pejabat Federal Reserve memberikan suara berbeda, sebuah sinyal bahwa tekanan untuk mengetatkan kebijakan masih kuat di internal bank sentral. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, kompak mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pendapat ini menjadi sorotan utama, karena menunjukkan adanya perdebatan sengit mengenai seberapa besar risiko inflasi yang masih harus ditanggung demi menjaga pertumbuhan ekonomi. Intervensi Jepang dan Penguatan Yen Berpindah ke kawasan Asia, yen Jepang mencatat penguatan signifikan terhadap dolar AS untuk hari kedua berturut-turut. Pergerakan ini terjadi di tengah dugaan kuat adanya intervensi dari pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Sebelumnya, yen sempat menyentuh level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS, sebuah situasi yang kerap memicu kekhawatiran otoritas moneter setempat. Di sisi lain, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 1 persen. Keputusan ini diambil melalui pemungutan suara 8-1, dengan satu anggota dewan yang mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Selain itu, BoJ juga memangkas proyeksi inflasi inti dan sedikit menaikkan prospek pertumbuhan ekonomi Jepang tahun ini. Penguatan Euro dan Poundsterling Mata uang utama lainnya juga mencatat penguatan terhadap dolar AS. Euro naik tipis 0,1 persen menjadi USD1,1537 dan menguat sekitar 1 persen sepanjang Juli. Penguatan ini ditopang oleh data inflasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan euro yang ternyata lebih baik dari perkiraan awal para analis. Sementara itu, poundsterling menguat 0,1 persen menjadi USD1,3484 serta mencatat kenaikan sekitar 1,7 persen selama Juli. Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan bank-bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB), setelah muncul sinyal tekanan inflasi yang kembali meningkat akibat kenaikan harga energi. Perhatian utama tetap tertuju pada apakah The Fed akan mempertahankan sikapnya atau justru terpaksa menaikkan suku bunga lagi di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
Mardiono Tegaskan Fraksi PPP di DPRD Harus Perkuat Fungsi Pengawasan dan Antisipasi Dampak El Nino
Kemenhut Serahkan Tersangka Pembalakan Liar di Solok Beserta 3 Alat Berat dan 152 Batang Kayu ke Kejaksaan
Empat Negara Arab Dukung Penuh Rencana Perdamaian Gaza, Desak Penarikan Total Pasukan Israel
Calon Taruna Akpol Ditemukan Tewas di Lingkungan Pendidikan Semarang, Polisi Periksa Saksi