PARADAPOS.COM - Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI) bersama Komando Pasifik Amerika Serikat (US Indo-Pacific Command) resmi menutup latihan Multinational Peacekeeping Exercise (MPE) 2026 Garuda Canti Dharma 3 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 1 Agustus 2026. Latihan yang berlangsung sejak 20 Juli tersebut diikuti oleh 1.014 personel dari 22 negara dan dipimpin langsung oleh Asisten Operasi Panglima TNI, Letjen TNI Bobby Rinal Makmun, yang mewakili Panglima TNI Jenderal Agus Subyanto. Penutupan ini menjadi puncak rangkaian agenda yang bertujuan memperkuat interoperabilitas pasukan perdamaian global di tengah dinamika konflik dunia yang semakin kompleks.
Upacara penutupan berlangsung khidmat di kawasan Sentul. Selain pejabat tinggi TNI dan Polri, hadir pula perwakilan US Indo-Pacific Command, para duta besar, atase pertahanan negara sahabat, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait. Kehadiran mereka menegaskan besarnya perhatian internasional terhadap latihan tahun ini.
Investasi Strategis bagi Perdamaian Dunia
Dalam amanat yang dibacakan Letjen Bobby Rinal Makmun, Panglima TNI menegaskan bahwa MPE 2026 Garuda Canti Dharma 3 bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan ini diposisikan sebagai investasi strategis untuk memperkuat kerja sama internasional dan meningkatkan kesiapan pasukan dalam mendukung misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Perkembangan lingkungan strategis global yang semakin dinamis menghadirkan tantangan baru bagi operasi pemeliharaan perdamaian PBB. Konflik yang semakin kompleks menuntut pasukan perdamaian memiliki profesionalisme, kesiapan, interoperabilitas, serta kemampuan bekerja sama lintas negara," kata Bobby, dalam program Headline News Metro TV, Sabtu, 1 Agustus 2026.
"Oleh karena itu, latihan miltinasional seperti Garuda Canti Dharma bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan investasi strategis untuk membangun kepercayaan, memperkuat kerja sama internasional, dan meningkatkan kesiapan bersama dalam mendukung perdamaian dunia," ujarnya menambahkan.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pergeseran paradigma dalam operasi perdamaian. Jika sebelumnya fokus utama adalah pengawasan gencatan senjata, kini pasukan perdamaian dituntut mampu menghadapi aktor non-negara, bencana kemanusiaan, hingga melindungi warga sipil di tengah konflik. Latihan bersama semacam ini menjadi ruang vital untuk menyamakan persepsi dan prosedur di antara negara-negara kontributor pasukan.
Apresiasi dan Komitmen Ke Depan
Dalam kesempatan yang sama, Panglima TNI melalui Letjen Bobby juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta dan panitia. Kerja keras dan dedikasi mereka selama kurang lebih dua pekan dinilai telah menghasilkan capaian yang signifikan, baik dari segi teknis militer maupun penguatan hubungan diplomatik.
Lebih dari sekadar angka partisipasi, latihan ini merupakan wujud nyata komitmen PMPP TNI dalam menyiapkan personel pemelihara perdamaian yang profesional dan berstandar internasional. Pengalaman bertukar taktik, prosedur, dan budaya dengan militer negara lain menjadi bekal berharga bagi setiap prajurit yang akan diterjunkan ke zona misi PBB nantinya.
Penutupan latihan ini meninggalkan optimisme. Kolaborasi yang telah terjalin di Sentul diharapkan menjadi fondasi kokoh untuk operasi bersama di masa depan, di berbagai belahan dunia yang membutuhkan kehadiran pasukan perdamaian. Komitmen untuk terus berlatih dan berbagi pengetahuan adalah kunci menjaga perdamaian yang semakin rapuh di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
Imam Besar FBR Instruksikan Anggota Tak Sebar Informasi di Medsos Sebelum Dipastikan Kebenarannya
Wamen ESDM Sidak SPBU di Tapanuli Selatan, Pantau Distribusi BBM dan Penerapan B50
Kebakaran Rumah di Kebayoran Lama Hanguskan Sebagian Bangunan, Damkar Kerahkan 8 Unit Mobil
Mantan PBNU Hanief Saha Ghafur Usulkan AHWA Tak Hanya Pilih Rais Aam, tapi Seleksi Ketua Umum