PARADAPOS.COM - PT Terminal Teluk Lamong (TTL) memangkas waktu pergantian antar kapal dari 4-5 jam menjadi rata-rata 1 jam 30 menit melalui inovasi Easy Access Zone Integration (EAZI). Terobosan ini diumumkan Senior Manager Sekretaris Perusahaan dan Hukum PT TTL, Syaiful Anam, di Surabaya pada Sabtu, sebagai bagian dari upaya mempercepat arus logistik nasional. Inovasi yang lahir dari kolaborasi operator terminal, regulator, dan pemangku kepentingan kepelabuhanan itu terbukti meningkatkan efisiensi pelayanan kapal serta memperbesar kapasitas layanan terminal. Surabaya, Jawa Timur — Efisiensi menjadi kata kunci dalam operasional pelabuhan saat ini. PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menjawab tantangan itu lewat inovasi yang mereka sebut Easy Access Zone Integration atau EAZI. Sistem ini dirancang untuk memangkas waktu pergantian antar kapal—yang dalam istilah teknis disebut Ship to Ship (STS)—secara signifikan. “Inovasi tersebut terbukti meningkatkan efisiensi pelayanan kapal, memperbesar kapasitas layanan terminal, serta mendukung percepatan arus logistik nasional,” kata Syaiful Anam dalam keterangan resminya di Surabaya, Sabtu. Mengurai Simpul Birokrasi di Pelabuhan Jika biasanya proses STS memakan waktu hingga 4-5 jam, dengan EAZI waktu tersebut berhasil ditekan menjadi rata-rata hanya 1 jam 30 menit. Ini bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga menyangkut pengelolaan pola labuh yang lebih optimal. Yang menarik, efisiensi ini dicapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan maupun kualitas pelayanan. Saya sempat berbincang dengan beberapa operator di lapangan beberapa waktu lalu. Mereka mengakui bahwa tantangan terbesar di pelabuhan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan koordinasi antar pihak. EAZI hadir sebagai jembatan yang menyatukan kepentingan banyak pihak dalam satu sistem terpadu. Dampak Nyata pada Produktivitas Implementasi EAZI tidak berhenti pada efisiensi waktu semata. Di Terminal Petikemas (TPK) Nilam, inovasi ini berdampak langsung pada produktivitas operasional. Data menunjukkan bahwa arus peti kemas tertinggi sepanjang tahun 2026 tercatat pada Mei, dengan volume mencapai 49.685 TEUs. Angka ini menjadi bukti bahwa perbaikan proses memang berdampak pada hasil akhir. Efisiensi yang dihasilkan juga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi terminal untuk mengakomodasi tambahan kunjungan kapal. Hal ini dicapai tanpa perlu investasi infrastruktur baru yang memakan biaya besar. Kapasitas layanan yang ada bisa dimaksimalkan secara optimal. Pengakuan dan Langkah Ke Depan Kerja keras TTL dalam mengimplementasikan EAZI mendapat apresiasi. Inovasi ini meraih Radar Surabaya Awards 2026 dalam kategori Perusahaan dengan Inovasi & Sinergi Logistik Maritim Terbaik. Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa langkah yang diambil TTL berada di jalur yang tepat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung implementasi program ini. Keberhasilan di TPK Nilam akan menjadi praktik terbaik (best practice) yang terus dikembangkan dan direplikasi sebagai bagian dari transformasi operasional PT Terminal Teluk Lamong Group,” ungkap Syaiful. Ke depan, TTL berencana mereplikasi keberhasilan ini ke unit-unit operasional lainnya. Jika konsisten, bukan tidak mungkin inovasi serupa akan menjadi standar baru di industri kepelabuhanan nasional. Setidaknya, apa yang dilakukan TTL menunjukkan bahwa perbaikan layanan logistik tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa berawal dari penyederhanaan proses yang ada.
Artikel Terkait
BMKG: Seluruh Wilayah Jakarta Diprakirakan Cerah pada Minggu, Kepulauan Seribu Berawan
Persib vs Persija dan Persebaya vs Arema Warnai Semifinal Piala Presiden 2026
BMKG Minta Warga Aceh hingga Bengkulu Waspadai Hujan Sangat Lebat Akibat Bibit Siklon 94W
Dapur MBG SMKN 6 Semarang Dihentikan Sementara Usai Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan