Dapur MBG SMKN 6 Semarang Dihentikan Sementara Usai Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:25 WIB
Dapur MBG SMKN 6 Semarang Dihentikan Sementara Usai Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan

PARADAPOS.COM - Ratusan siswa dan belasan guru di SMKN 6 Semarang mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat, 31 Juli 2026. Menyusul kejadian ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi yang bertugas mendistribusikan makanan ke sekolah tersebut resmi menghentikan operasional dapur sementara waktu. Penghentian ini dilakukan setelah investigasi lintas sektor melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan Kota Semarang dan kepolisian, untuk memastikan akar masalah dan memprioritaskan keselamatan penerima manfaat.

Kejadian ini bermula dari laporan yang masuk ke pihak sekolah pada Jumat pagi. Sejumlah siswa mengeluhkan gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare setelah menyantap menu MBG yang didistribusikan pada hari itu. Para korban kemudian dilarikan ke puskesmas terdekat dan sebagian lainnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pihak SPPG pun bergerak cepat dengan melakukan penelusuran terhadap kondisi para siswa yang terdampak.

Investigasi Lintas Sektor dan Penghentian Operasional

Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, membenarkan bahwa dapur SPPG Karangturi telah dihentikan operasionalnya sejak Jumat malam. Menurutnya, langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian dan komitmen utama Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap keselamatan penerima manfaat. “Kemarin (Jumat-31/7) kami sudah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Kepolisian (Polrestabes), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. Makanya dapur kami suspend sementara karena buat kami di BGN, keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Hadi menambahkan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Timnya langsung bergerak memantau kondisi para siswa yang dirawat, baik di puskesmas maupun rumah sakit. “Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak, yang dibawa ke Puskesmas sampai yang dilarikan ke Rumah Sakit untuk rawat inap. Sampai saat ini terus kita pantau dan evaluasi termasuk tahapan demi tahapan kronologisnya kami dalami,” ujarnya.

Kronologi Pengolahan dan Distribusi Makanan

Dari hasil investigasi sementara yang dihimpun di lapangan, ditemukan fakta mengenai alur pengolahan makanan di SPPG Karangturi. Bahan baku berupa bumbu, buah, ayam, tahu, dan sayuran tiba di dapur secara bertahap pada Rabu, 29 Juli 2026, mulai pukul 13.00 hingga 17.30 WIB. Proses persiapan pun langsung dimulai pada pukul 18.55 WIB dengan tahapan pencucian, pengukusan tahu, hingga marinasi ayam yang berlangsung selama satu jam sejak pukul 19.30 WIB.

Memasuki Kamis dini hari, tepatnya pukul 00.30 WIB, tim pengolahan mulai memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran. Setelah melalui uji organoleptik dan pengecekan gramasi oleh Ahli Gizi pada pukul 04.00 WIB, makanan kemudian dikemas dan siap didistribusikan. Pengiriman dilakukan dalam dua kloter waktu, yaitu pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB. Namun, laporan mengenai gejala gangguan pencernaan baru diterima oleh pihak SPPG dari sekolah pada Jumat, 31 Juli 2026, sekitar pukul 09.40 WIB.

Hingga saat ini, pihak terkait masih terus mendalami kronologi lengkap kejadian ini. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengolahan dan distribusi tengah dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali. Sementara itu, para korban yang sempat dirawat intensif berangsur pulih dan proses pemantauan kesehatan terus dilakukan oleh otoritas setempat.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar