Korea Selatan Tetapkan Status Darurat Level 2 saat Suhu di Yangsan Tembus 42,5 Derajat, Rekor Terpanas Sejak 1904

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:50 WIB
Korea Selatan Tetapkan Status Darurat Level 2 saat Suhu di Yangsan Tembus 42,5 Derajat, Rekor Terpanas Sejak 1904

PARADAPOS.COM - Seoul mencatat rekor suhu terpanas dalam sejarah modern pada Minggu, 2 Agustus 2026. Badan Meteorologi Korea (KMA) mengonfirmasi suhu udara mencapai 42,5 derajat Celsius di Kota Yangsan, sekitar 310 kilometer di tenggara Seoul, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada tahun 2018. Kondisi ini memicu pemerintah untuk menaikkan status tanggap darurat bencana ke Level 2 dan mengeluarkan instruksi khusus bagi kementerian terkait.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak pencatatan cuaca modern dimulai di Semenanjung Korea pada 1904, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Yonhap. Sebelumnya, rekor terpanas dipegang oleh Kota Hongcheon pada 2018 dengan suhu 41 derajat Celsius. Namun, kali ini Yangsan mencatatkan lompatan signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gelombang Panas Lima Hari Berturut-turut

Wilayah Yangsan sendiri telah bergulat dengan suhu di atas 40 derajat Celsius selama lima hari beruntun. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan meteorolog bahwa suhu dapat terus merangkak naik dan menembus angka 43 derajat Celsius apabila gelombang panas tidak segera mereda. Saat termometer menunjukkan 42,5 derajat pada siang hari, udara terasa seperti menekan kulit, dan aspal di jalan-jalan kota tampak bergetar karena hawa panas yang memancar.

Tidak hanya Yangsan yang merasakan dampaknya. Kota Gyeongju, yang berjarak sekitar 240 kilometer di tenggara Seoul, juga mencatat suhu 40,2 derajat Celsius. Ini menjadi kali pertama suhu di kota bersejarah tersebut menembus angka 40 derajat sepanjang tahun ini. Warga setempat yang biasanya ramai mengunjungi situs candi Bulguksa pun terpaksa mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Respons Pemerintah: Status Darurat Level 2

Menyusul kondisi cuaca ekstrem yang melanda beberapa wilayah secara bersamaan, pemerintah Korea Selatan langsung bergerak cepat. Status operasi markas tanggap darurat bencana dinaikkan ke Level 2, sebuah langkah yang jarang dilakukan kecuali dalam situasi darurat nasional yang meluas. Eskalasi ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi respons antarlembaga di tingkat pusat dan daerah.

Perdana Menteri Han Seong-sook mengeluarkan instruksi darurat yang ditujukan kepada seluruh kementerian dan pemerintah daerah. Instruksi tersebut menekankan pentingnya pemeriksaan keselamatan secara intensif terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak suhu ekstrem.

"Lansia, anak-anak, dan pekerja di luar ruangan harus menjadi prioritas utama dalam pengawasan kita," ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip media setempat.

Lebih lanjut, pemerintah daerah diminta untuk memastikan pasokan listrik dan air tetap stabil di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama gelombang panas berlangsung. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi krisis energi dan air bersih yang kerap menyertai cuaca ekstrem berkepanjangan.

Di lapangan, petugas kesehatan setempat mulai melakukan kunjungan door-to-door ke rumah-rumah warga lanjut usia di Yangsan dan Gyeongju. Mereka membawa air mineral dan memeriksa kondisi kesehatan warga yang dianggap paling berisiko mengalami heatstroke. Sementara itu, di pusat-pusat kota, pemerintah membuka tempat penampungan sementara ber-AC yang dapat digunakan warga untuk berteduh dari sengatan matahari.

Dengan prediksi suhu yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, otoritas setempat mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari dan selalu menjaga hidrasi. Gelombang panas yang melanda Korea Selatan tahun ini menjadi pengingat nyata akan dampak perubahan iklim yang semakin terasa di kawasan Asia Timur.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar