Karhutla di Kalimantan Meluas, Asap Pekat Dekati Permukiman Warga

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Karhutla di Kalimantan Meluas, Asap Pekat Dekati Permukiman Warga

PARADAPOS.COM - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan kembali meluas hingga mendekati permukiman warga. Titik api yang muncul di berbagai lokasi diperparah oleh hembusan angin kencang dan kondisi lahan gambut yang sangat kering akibat kemarau panjang. Asap pekat yang dihasilkan tidak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Di lapangan, kobaran api terlihat cepat merambat melewati semak belukar kering. Dalam hitungan jam, jilatan api sudah mendekati bahu jalan, kantor kelurahan, hingga pemukiman padat penduduk. Warga pun tampak berupaya menyelamatkan barang-barang berharga mereka sambil sesekali menyeka keringat dan debu yang bercampur abu beterbangan di udara.

Situasi ini jelas berbeda dengan kebakaran tahun-tahun sebelumnya. Minimnya sumber air di sekitar lokasi kejadian menjadi kendala utama. Banyaknya titik api yang muncul secara bersamaan di lokasi yang berbeda membuat petugas pemadam kewalahan. Sebagian petugas terpaksa memadamkan api secara manual menggunakan dahan pohon, terutama di area yang sudah mengarah dekat ke kantor kelurahan dan Posko Satgas Karhutla.

“Kami kewalahan, titik apinya banyak dan muncul di mana-mana. Air juga sulit didapat,” ujar salah satu petugas di lokasi kejadian dengan napas tersengal.

Hembusan angin yang kencang semakin mempercepat penjalaran api. Kondisi lahan yang sangat kering akibat kemarau panjang membuat api mudah merembet ke area lain. Total luas lahan gambut yang terbakar di kawasan ini diperkirakan mencapai lebih dari 90 hektare.

Upaya Pemadaman Terkendala Sumber Air

Keterbatasan akses air menjadi persoalan serius yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Posko Satgas Karhutla yang berada di dekat lokasi kebakaran terpaksa mengandalkan pasokan air dari mobil tangki yang datang secara bergiliran. Namun, kapasitas yang terbatas membuat proses pendinginan lahan gambut berjalan lambat.

Petugas juga harus berjibaku dengan asap tebal yang menyelimuti area pemadaman. Jarak pandang yang menurun drastis membuat mobil pemadam kesulitan bergerak cepat. Di beberapa titik, api bahkan terpaksa dipadamkan dengan cara digali dan disiram menggunakan alat seadanya.

Dampak Asap Terhadap Warga dan Lalu Lintas

Asap pekat yang menyelimuti kawasan ini jelas mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Beberapa pengendara yang melintas di jalan utama terlihat menyalakan lampu kendaraan di siang hari demi keselamatan. Gangguan kesehatan pun mulai dirasakan, terutama oleh anak-anak dan lansia yang rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Warga berharap hujan segera turun untuk memadamkan titik-titik api yang masih menyala. Namun, prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan masih rendah dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini membuat semua pihak berharap upaya pemadaman darat dapat segera menjangkau seluruh titik api sebelum kebakaran semakin meluas.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar