El Nino Super Kuat Puncak Agustus-September, BMKG: 72 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:25 WIB
El Nino Super Kuat Puncak Agustus-September, BMKG: 72 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau
PARADAPOS.COM - Fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla tengah melanda wilayah Indonesia. Siklus pemanasan suhu muka laut super kuat di Samudra Pasifik ini telah memicu kemarau berkepanjangan, cuaca panas terik, serta penurunan drastis curah hujan di berbagai penjuru nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa bulan Agustus hingga September ini merupakan puncak dari fenomena tersebut, yang berdampak langsung pada krisis air bersih dan ancaman kebakaran hutan. Situasi ini bukan sekadar peringatan belaka. Di lapangan, warga di sejumlah daerah sudah merasakan langsung dampaknya—mulai dari antrean panjang mengambil air bersih hingga kekhawatiran akan meluasnya titik api. Pemerintah pun bergerak, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk memitigasi dampak yang lebih parah.

Agenda Istana dan Langkah Pemprov DKI

Kondisi cuaca yang kian ekstrem telah menjadi perhatian serius di tingkat pusat. Presiden Prabowo Subianto telah memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga untuk membahas mitigasi musim kemarau dan antisipasi kebakaran hutan atau lahan (Karhutla). Rapat terbatas itu menjadi sinyal bahwa persoalan ini dianggap genting dan membutuhkan koordinasi lintas sektor. Di tingkat daerah, DKI Jakarta mulai merasakan dampak kekeringan setelah tiga pekan tanpa hujan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan BMKG dalam melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. "Pemerintah DKI Jakarta melalui BPBD sudah melakukan persiapan. Jika biasanya kita mengatur hujan agar tidak turun, kali ini jika diperlukan, kami akan mengatur agar hujan turun karena sudah hampir tiga minggu tidak ada hujan di beberapa tempat," kata Gubernur Jakarta, Pramono Anung, dikutip dari tayangan Metro This Week, Metro TV, Minggu, 2 Agustus 2026. Pernyataan itu menarik karena menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Jika selama ini OMC kerap digunakan untuk mencegah hujan saat acara besar, kini justru dibalik untuk mendatangkan hujan di tengah kemarau. Langkah ini dinilai sebagai upaya adaptif yang perlu didukung.

Krisis Air Bersih di Banten

Dampak kekeringan paling nyata terlihat di wilayah Banten. Di Kabupaten Pandeglang, sebanyak 11 kecamatan dilaporkan mengalami krisis air bersih. Warga harus antre panjang membawa jerigen dan ember demi mendapatkan bantuan air dari BPBD setempat. Sejauh ini, 174.000 liter air telah didistribusikan kepada sekitar 9.000 kepala keluarga. Suasana di lokasi pembagian air menggambarkan betapa mendesaknya kebutuhan ini. Warga rela menempuh jarak jauh dan menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi wadah-wadah yang mereka bawa. Kondisi serupa terjadi di Kota Cilegon. Antusiasme warga yang tinggi untuk mendapatkan air bersih terkadang memicu kericuhan saat pembagian bantuan air dari pemerintah kota.

Strategi BMKG dan Modifikasi Cuaca

Di tengah situasi yang kian pelik, BMKG bergerak dengan sejumlah strategi. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa saat ini El Nino telah masuk ke level kuat (Super El Nino). BMKG memfokuskan antisipasi pada dua hal utama: kekeringan dan kebakaran lahan. "Kami melakukan modifikasi cuaca bekerja sama dengan BNPB dan Kementerian Kehutanan untuk mengisi 240 waduk di Indonesia agar bisa difungsikan untuk PLTA, irigasi, dan kebutuhan air bersih," jelas Teuku Faisal. Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga digencarkan di enam provinsi rawan Karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, guna menjaga kelembapan tanah gambut agar tidak mudah terbakar. Langkah ini penting mengingat kebakaran gambut sering kali menjadi sumber asap yang berdampak luas hingga ke negara tetangga.

Prediksi Hingga 2027

Lantas, sampai kapan kondisi ini berlangsung? Hingga pertengahan Juli 2026, status El Nino masih berada dalam kategori kuat. Lebih dari 72 persen wilayah zona musim di Indonesia telah sepenuhnya masuk musim kemarau. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah tanah air saat ini sedang berada dalam kondisi paling kering. Kondisi kering dan suhu panas menyengat ini diprediksi akan bertahan melintasi akhir tahun hingga awal 2027. BMKG memperkirakan periode aktif fenomena El Nino di Indonesia baru akan berakhir pada Mei tahun depan. Artinya, masih ada beberapa bulan ke depan di mana masyarakat harus beradaptasi dengan cuaca yang tidak bersahabat. Masyarakat diimbau untuk bijak dalam penggunaan air bersih dan waspada terhadap potensi kebakaran di lingkungan sekitar. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan alam yang sedang berlangsung ini.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar