PARADAPOS.COM - Tekanan politik terhadap Gianni Infantino, Presiden FIFA, meningkat signifikan menjelang pemilihan ketua organisasi sepak bola dunia tahun depan. Gelombang desakan mundur ini dipicu oleh batalnya rencana kontroversial penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, termasuk perusahaan yang dikaitkan dengan keluarga Presiden AS, Donald Trump. UEFA, sebagai konfederasi dengan 55 asosiasi anggota, disebut-sebut menjadi motor penggerak upaya menjatuhkan Infantino yang telah menjabat sejak 2016 tersebut. Keputusan FIFA untuk membatalkan proposal komersial itu memang telah diumumkan secara resmi. Namun, langkah tersebut dinilai banyak pihak tidak cukup untuk meredam krisis kepercayaan yang melanda para pemangku kepentingan sepak bola global. Atmosfer ketidakpercayaan ini terasa kental, terutama setelah sebelumnya muncul komunikasi intensif antara Infantino dan Trump yang memicu spekulasi soal intervensi politik. Pernyataan Resmi dan Sikap UEFA FIFA sendiri telah merilis pernyataan resmi terkait pembatalan proyek tersebut. Dalam keterangannya, mereka mengakui bahwa inisiatif ini justru menimbulkan perpecahan di internal organisasi. "Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungan yang ada, tidak lagi sesuai dengan tujuan awal yang ingin dicapai. Oleh karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan," tulis FIFA dalam pernyataan resminya. Di sisi lain, UEFA mengambil sikap yang jauh lebih tegas. Mereka secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Sikap ini merupakan eskalasi dari ketegangan yang sudah lama terjadi antara kedua organisasi, terutama terkait padatnya kalender pertandingan dan rencana format baru Piala Dunia Antarklub. "Kami tidak bisa terus menjalankan sepak bola dengan skema rahasia yang disusun secara terburu-buru oleh pihak-pihak yang tidak jelas identitasnya. Kami harus mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab dan meminta mereka mempertanggungjawabkan tindakannya," tulis UEFA dalam pernyataan resminya. Langkah Matematis Menuju Mosi Tidak Percaya Untuk merealisasikan upaya pelengseran tersebut, UEFA secara matematis memiliki peluang untuk mengajukan Kongres Luar Biasa (KLB) dengan agenda mosi tidak percaya. Berdasarkan Statuta FIFA, usulan ini membutuhkan dukungan minimal 20 persen dari total 211 asosiasi anggota, atau sekitar 43 federasi. Dengan jumlah 55 asosiasi anggota yang dimiliki UEFA, ambang batas tersebut secara teoretis dapat tercapai jika seluruh anggota UEFA solid. Langkah ini tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan lobi politik yang intensif dan konsolidasi suara dari berbagai konfederasi lain seperti CAF (Afrika) atau AFC (Asia) untuk benar-benar menggulingkan Infantino. Namun, adanya celah regulasi ini menjadi sinyal bahwa posisi pria asal Swiss tersebut tidak lagi aman. Ironi Kepemimpinan di Tengah Badai Kontroversi Upaya menggulingkan Infantino ini menjadi sebuah ironi tersendiri. Ia terpilih pada 2016 dengan membawa janji besar untuk mereformasi FIFA pasca-era Sepp Blatter yang porak-poranda akibat skandal korupsi. Kini, masa kepemimpinannya justru diwarnai oleh berbagai polemik yang tak kalah pelik. Salah satu sorotan tajam mengarah pada dugaan intervensi politik dalam pengambilan keputusan FIFA. Komunikasi intensif Infantino dengan Presiden AS, Donald Trump, menjadi perbincangan hangat. Trump disebut melobi FIFA terkait pencabutan sanksi kartu merah terhadap penyerang timnas AS, Folarin Balogun. Meski tidak ada konfirmasi resmi, isu ini semakin memperkeruh suasana dan menambah daftar panjang kekhawatiran akan independensi FIFA. Rangkaian polemik yang silih berganti ini, mulai dari isu komersialisasi hingga dugaan intervensi politik, membuat posisi Infantino berada di bawah tekanan yang sangat besar. Pertanyaan tentang kelanjutan kepemimpinannya di FIFA kini menggantung di udara, dan jawabannya mungkin akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan melalui dinamika politik yang semakin memanas.
Artikel Terkait
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Minyak 188 Ribu Barel per Hari Mulai September
Mobil Klinik Hewan Keliling Jakarta Utara Kembali Beroperasi, Vaksinasi Rabies hingga Steril Tersedia di Enam Lokasi
Tiga Surah Qul: Amalan Perlindungan yang Dicontohkan Nabi, Ini Waktu Utama Membacanya
Polisi: Atlet Golf Jesslyn Wijaya Tidak Diculik, Melainkan Dibawa Suruhan Ibunya ke Luar Negeri