BMKG: 13 Kabupaten/Kota di Jabar Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis

- Senin, 03 Agustus 2026 | 05:25 WIB
BMKG: 13 Kabupaten/Kota di Jabar Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis

PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Barat mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk periode Dasarian I Agustus 2026, yang berlangsung dari 1 hingga 10 Agustus. Berdasarkan peta sebaran yang dirilis, tercatat 13 kabupaten dan kota di Jawa Barat berada pada status Awas, sementara tujuh wilayah lainnya masuk kategori Siaga. Peringatan ini dikeluarkan menyusul proyeksi musim kemarau yang berdampak pada ketersediaan air, sektor pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Informasi tersebut dihimpun dari unggahan resmi akun Instagram @bmkg_jawabarat. Dari data yang dipetakan, wilayah dengan status Awas atau zona merah mendominasi area utara, tengah, hingga sebagian selatan Jawa Barat. Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi dampak yang lebih luas.

Status Awas (Zona Merah)

Sebanyak 13 daerah yang masuk kategori Awas meliputi:
  1. Kota Bekasi
  2. Kabupaten Karawang
  3. Kabupaten Purwakarta
  4. Kabupaten Subang
  5. Kabupaten Indramayu
  6. Kabupaten Cirebon
  7. Kabupaten Majalengka
  8. Kabupaten Sumedang
  9. Kabupaten Bandung Barat
  10. Kota Cimahi
  11. Kabupaten Bandung
  12. Kabupaten Garut
  13. Kabupaten Cianjur

Status Siaga (Zona Oranye)

Sementara itu, tujuh wilayah berada dalam kategori Siaga, yaitu:
  1. Kabupaten Bekasi
  2. Kabupaten Bogor
  3. Kabupaten Ciamis
  4. Kota Banjar
  5. Kabupaten Kuningan
  6. Kabupaten Sukabumi
  7. Kabupaten Tasikmalaya

Status Waspada (Zona Kuning)

Menariknya, untuk kategori Waspada atau zona kuning, BMKG mencatat nihil. Artinya, tidak ada satu pun daerah di Jawa Barat yang masuk dalam klasifikasi tersebut pada periode ini. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan berada di level siaga hingga awas.
Ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.

Imbauan BMKG

Atas kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan langkah antisipasi terhadap sejumlah dampak yang mungkin ditimbulkan. Potensi dampak utama yang perlu diwaspadai antara lain krisis ketersediaan air bersih, ancaman gagal panen pada sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). "Kami meminta masyarakat untuk menghemat penggunaan air serta terus memantau informasi perkembangan cuaca dan iklim resmi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Barat," ujar pihak BMKG dalam keterangan resminya. Lebih lanjut, koordinasi lintas sektor dinilai penting untuk memitigasi risiko yang lebih besar. Terutama bagi daerah-daerah yang selama ini bergantung pada pasokan air dari sungai atau waduk, pengelolaan sumber daya air secara bijak menjadi kunci utama menghadapi puncak musim kemarau tahun ini.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar