PSI Naik ke 4,1 Persen, Pengamat: Partai Koalisi Perlu Waspadai Basis Pemilih Muda

- Senin, 03 Agustus 2026 | 18:53 WIB
PSI Naik ke 4,1 Persen, Pengamat: Partai Koalisi Perlu Waspadai Basis Pemilih Muda

PARADAPOS.COM - Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, menilai kenaikan elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hingga 4,1 persen berpotensi memicu kewaspadaan di kalangan partai politik koalisi, terutama yang selama ini mengandalkan basis pemilih muda dan masyarakat perkotaan. Pernyataan ini disampaikan Efriza merespons hasil survei terbaru yang menunjukkan tren positif bagi partai berlambang bunga mawar tersebut. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka tersebut belum cukup untuk membaca adanya pergeseran signifikan dalam peta kekuatan politik nasional menjelang Pemilu 2029.

Kewaspadaan Partai Koalisi terhadap Basis Pemilih Muda

Menurut Efriza, dinamika elektoral yang terjadi saat ini menarik untuk dicermati. Ia meyakini partai-partai yang selama ini identik dengan suara anak muda dan segmen perkotaan akan memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan PSI. "Partai-partai tentu akan lebih waspada, terutama yang memiliki basis pemilih muda," kata Efriza dalam keterangannya, Selasa (3/8).

Ia menambahkan, kenaikan ini tidak bisa dilepaskan dari efek ekor jas (coattail effect) yang ditimbulkan oleh safari politik Presiden Joko Widodo. Namun, ia menggarisbawahi bahwa fenomena tersebut belum tentu berdampak langsung pada lanskap politik yang lebih luas. "Survei ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran posisi PSI sekaligus dampak safari politik Jokowi," tuturnya.

PSI Dinilai Masih Hadapi Pekerjaan Rumah Besar

Di balik optimisme yang menyertai angka 4,1 persen, Efriza mengingatkan bahwa PSI masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang belum tuntas. Penguatan struktur kepartaian, penegasan identitas politik, hingga perluasan basis dukungan menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. "Angka 4,1 persen belum cukup menunjukkan adanya pergeseran kekuatan politik secara drastis," ujarnya.

Ia mencontohkan, dalam praktiknya, kenaikan elektabilitas yang bersifat sementara kerap terjadi ketika ada figur populer yang sedang naik daun. Namun, tanpa diiringi mesin partai yang solid di tingkat akar rumput, capaian tersebut berisiko menguap menjelang hari pemungutan suara. Efriza menilai partai-partai besar justru lebih memilih memperkuat konsolidasi internal ketimbang memberikan respons berlebihan terhadap hasil survei semacam ini.

Strategi Partai Besar Menghadapi Kompetisi Menuju 2029

Menjelang kompetisi politik yang diprediksi semakin ketat menuju Pemilu 2029, Efriza melihat langkah konsolidasi internal sebagai strategi yang lazim dan rasional. Ia menilai partai-partai besar tidak akan mudah terpancing oleh angka-angka survei yang belum tentu merepresentasikan kondisi riil di lapangan. "PSI masih harus membuktikan bahwa kenaikan elektabilitas itu bisa dipertahankan melalui penguatan organisasi dan kerja politik yang konsisten," pungkasnya.

Efriza menambahkan, kompetisi elektoral ke depan akan jauh lebih dinamis. Namun, pada titik ini, ia belum melihat adanya ancaman langsung terhadap dominasi partai-partai besar yang sudah mapan. Yang terpenting, menurut dia, adalah bagaimana setiap partai mampu membaca tren ini secara jernih dan menyusun strategi yang tepat tanpa terjebak pada euforia sesaat.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar