Menkeu: Gejolak Timur Tengah Dongkrak Imbal Hasil SBN 10 Tahun, Fundamental Pasar Tetap Terjaga

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Menkeu: Gejolak Timur Tengah Dongkrak Imbal Hasil SBN 10 Tahun, Fundamental Pasar Tetap Terjaga

PARADAPOS.COM - Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 31 basis poin (bps) secara kuartal ke kuartal (qtq). Konflik terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mendorong harga minyak mentah global naik, memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi global, dan mendorong investor beralih ke sikap menghindari risiko (risk-off) di pasar SBN. Meski demikian, data menunjukkan aliran dana asing masih tercatat masuk, dan pemerintah menilai fundamental pasar tetap terjaga di tengah gejolak ekonomi global.

Menakar Dampak Gejolak Timur Tengah di Pasar Obligasi

Di tengah hiruk-pikuk kekhawatiran eskalasi konflik, Purbaya menegaskan bahwa “SBN market performance has remained stable amid continued uncertainty in global financial markets.” Pernyataan ini keluar sebagai respons atas gejolak yang melanda pasar keuangan domestik. Ia mencoba meredam kekhawatiran pelaku pasar dengan menunjukkan bahwa gejolak kali ini bukanlah fenomena tunggal. Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, ia membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara berkembang lainnya. Tercatat, kenaikan yield obligasi 10 tahun juga dialami oleh Turki (naik 524 bps), Filipina (naik 148 bps), Brasil (naik 106 bps), Korea Selatan (naik 92 bps), Polandia (naik 59 bps), dan Afrika Selatan (naik 55 bps). Perbandingan ini mengindikasikan bahwa tekanan yang dialami Indonesia relatif lebih moderat dibandingkan negara-negara peers-nya. Menariknya, di sela-sela volatilitas pasar tersebut, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih (net purchase) sebesar Rp32,09 triliun pada pasar SBN Indonesia selama kuartal kedua 2026. Angka ini mengerek total pembelian bersih mereka sepanjang tahun 2026 menjadi Rp6,99 triliun. Data terbaru hingga 30 Juli 2026 menunjukkan investor asing kembali membukukan net purchase sebesar Rp6,36 triliun secara month-to-date (MTD) dan Rp13,35 triliun secara year-to-date (YTD).

Kinerja APBN dan Strategi Pembiayaan yang Kredibel

Lebih lanjut, Purbaya menyoroti realisasi pembiayaan anggaran yang tumbuh signifikan. Ia mengungkapkan bahwa pembiayaan anggaran hingga kuartal kedua 2026 meningkat 59,4 persen secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan akuntabilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kami terus mengedepankan pengelolaan utang yang hati-hati dan terukur,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah senantiasa mempertimbangkan kondisi likuiditas, optimalisasi manajemen kas, serta dinamika pasar keuangan dalam setiap langkah penerbitan utang. Hal ini menjadi kunci di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti perekonomian global. Sementara itu, dari sisi penerimaan negara, kinerja menunjukkan arah yang positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp1.459,4 triliun hingga akhir kuartal kedua 2026, atau tumbuh kuat 21,4 persen secara yoy. Di sisi lain, belanja negara pada periode yang sama mencapai Rp1.656,0 triliun, meningkat 17,8 persen yoy. Khusus untuk belanja pemerintah pusat, realisasinya mencapai Rp1.298,6 triliun dengan pertumbuhan 29,4 persen yoy. Angka-angka ini mencerminkan adanya ruang fiskal yang tetap sehat untuk mendorong pertumbuhan, meskipun pemerintah harus ekstra waspada terhadap gejolak eksternal yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar