PARADAPOS.COM - Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan sekitar Surabaya memunculkan persoalan klasik yang tak kunjung tuntas: akurasi data manifes penumpang. Hingga Selasa, 4 Agustus 2026, tercatat selisih dua orang antara jumlah penumpang dalam manifes dan jumlah yang berhasil dievakuasi, memicu kesulitan dalam proses pendataan korban dan kembali menyoroti lemahnya sistem verifikasi penumpang kapal di Indonesia. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, membenarkan adanya selisih tersebut, namun menekankan bahwa angka ini masih bersifat dinamis dan bisa berubah seiring koordinasi yang terus dilakukan dengan pihak operator kapal. Selisih Data dan Proses Verifikasi yang Masih Berjalan Di tengah upaya pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung, perhatian publik tertuju pada ketidaksesuaian jumlah penumpang yang tercatat. Data sementara menunjukkan 236 penumpang sesuai manifes, sementara jumlah yang berhasil dievakuasi baru mencapai 234 orang. Nanang Sigit menjelaskan bahwa secara matematis, masih ada dua orang yang belum ditemukan. Namun, ia berhati-hati dalam menyikapi angka tersebut, mengingat proses pendataan di lapangan masih jauh dari selesai. "Sesuai dengan data bahwa penumpang itu 236, dan kemudian terevakuasi 234. Sehingga masih ada selisih dua. Secara matematis masih ada dua korban yang belum ditemukan. Akan tetapi ini merupakan data yang dinamis, yang artinya bisa sewaktu-waktu berubah, karena kami juga masih berkoordinasi dan menggali informasi dengan owner kapalnya," ujarnya dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa, 4 Agustus 2026. Pernyataan tersebut menggarisbawahi tantangan besar yang kerap dihadapi tim SAR dan otoritas pelabuhan. Ketidakakuratan manifes bukanlah hal baru dalam sejarah kecelakaan pelayaran di Tanah Air. Data yang tidak valid sering kali menjadi penghambat utama dalam proses pencarian korban, memperlambat identifikasi, dan menyulitkan upaya memastikan jumlah pasti orang yang berada di atas kapal saat insiden terjadi. Evaluasi Operator dan Peran KNKT Menanggapi temuan ini, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi angkat bicara. Pemerintah, kata dia, tidak akan tinggal diam. Langkah evaluasi terhadap operator kapal akan segera dilakukan, namun keputusan final tetap menunggu hasil investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Kita akan evaluasi, tapi yang paling penting kita akan lihat dulu sebab-sebabnya yang kita harus dapatkan dari KNKT. Ini juga akan menjadi lesson learned buat kita untuk mengevaluasi perusahaan-perusahaan tersebut. Terhadap perusahaan kita akan terus melakukan evaluasi melihat dari data yang ada kalau sudah dua kali kejadian," tuturnya. Pernyataan Menteri Perhubungan ini mengindikasikan adanya catatan historis terhadap operator kapal. Pemerintah menegaskan bahwa hasil investigasi KNKT akan menjadi fondasi utama dalam menentukan langkah lanjutan. Jika nantinya ditemukan pelanggaran prosedur keselamatan pelayaran, maka sanksi tegas kepada operator kapal bukanlah hal yang mustahil untuk dijatuhkan. Sorotan pada Akurasi Manifes Insiden ini kembali membuka luka lama tentang lemahnya pengawasan terhadap data manifes di Indonesia. Dalam banyak kasus kecelakaan kapal sebelumnya, perbedaan data sering kali menjadi polemik berkepanjangan. Hal ini tidak hanya menghambat proses evakuasi dan identifikasi korban, tetapi juga mempersulit keluarga penumpang untuk mendapatkan kepastian. Kondisi di lapangan pasca-kebakaran tentu sangat krusial. Tim SAR gabungan terus berupaya memverifikasi data dari berbagai sumber, termasuk dari agen perjalanan dan pihak keluarga yang melapor. Proses ini membutuhkan ketelitian dan waktu, sehingga angka yang ada saat ini masih sangat mungkin berubah. Yang terpenting, seluruh upaya difokuskan pada pencarian korban dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Artikel Terkait
Auksi: Persiapan Anggaran dan Strategi Kunci Sebelum Ikut Lelang Mobil Bekas
Warga Depok Geger Temukan Jasad Tanpa Kaki dalam Karung di Lahan Kosong
Persebaya Kalahkan Arema 1-0 di Derbi Jatim, Melaju ke Final Piala Presiden 2026
Bigmo Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Eksploitasi Anak dalam Siaran Promosi Vape, Komdigi Tegur YouTube