Pemerintah Didorong Percepat Operasi Jantung Bawaan Bayi, 6.000 Jiwa per Tahun Terancam Akibat Kesenjangan Layanan

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:25 WIB
Pemerintah Didorong Percepat Operasi Jantung Bawaan Bayi, 6.000 Jiwa per Tahun Terancam Akibat Kesenjangan Layanan

PARADAPOS.COM - Jakarta, 4 Agustus 2026 — Angka kematian bayi akibat penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pemerintah didorong untuk tidak hanya memperkuat deteksi dini, tetapi juga mempercepat layanan operasi guna menekan angka kematian yang diperkirakan mencapai 6.000 jiwa per tahun akibat kesenjangan kapasitas layanan. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, dari sekitar 48.000 bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan setiap tahunnya, 12.000 di antaranya membutuhkan tindakan operasi segera. Sayangnya, kapasitas layanan nasional baru mampu menjangkau sekitar 6.000 kasus. Artinya, separuh dari bayi yang membutuhkan pertolongan darurat itu harus terkatung-katung, dan pada akhirnya banyak yang tidak tertolong. Angka Kematian yang Tak Boleh Diabaikan Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti data ini dengan nada prihatin. Ia menegaskan bahwa setiap angka yang hilang adalah nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan. "Data ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang kehilangan kesempatan hidup akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Ini adalah persoalan yang harus menjadi perhatian bersama," kata Netty dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026. Pernyataan itu disampaikan di tengah desakan publik agar pemerintah bergerak lebih cepat. Sebab, persoalannya bukan hanya soal deteksi, melainkan juga bagaimana memastikan anak yang sudah terdeteksi bisa segera mendapat perawatan intensif. Skrining dan Kesiapan Rujukan: Satu Paket yang Tak Terpisahkan Netty menilai kesenjangan besar antara kebutuhan dan kapasitas fasilitas kesehatan tersebut harus segera diperkecil. Menurutnya, penguatan sistem pelayanan kesehatan tidak bisa dilakukan parsial, melainkan harus menyeluruh dari hulu ke hilir. “Kesenjangan inilah yang harus segera diperkecil melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan. Deteksi dini merupakan langkah yang sangat penting. Semakin cepat penyakit diketahui, semakin besar peluang bayi memperoleh penanganan yang tepat sebelum kondisinya memburuk," ucap Netty. Ia menambahkan, program skrining yang masif tanpa diimbangi kesiapan fasilitas rujukan dan ruang operasi hanya akan menciptakan antrean panjang. Kondisi itu justru bisa memperburuk keadaan bayi yang sudah kritis. "Jangan sampai semakin banyak bayi yang terdeteksi, tetapi justru harus menunggu terlalu lama karena keterbatasan ruang operasi, tenaga medis, atau fasilitas yang tersedia. Skrining harus berjalan seiring dengan penguatan layanan kuratif," tegas Netty. Tantangan di Lapangan: Antara Deteksi dan Tindakan Di sejumlah rumah sakit rujukan, keluhan tentang padatnya jadwal operasi jantung anak memang bukan hal baru. Beberapa tenaga medis mengungkapkan bahwa pasien PJB sering kali harus masuk daftar tunggu yang panjang, sementara kondisi jantung bayi bisa memburuk sewaktu-waktu. Situasi ini diperparah dengan distribusi tenaga spesialis yang belum merata. Sebagian besar ahli bedah jantung anak masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga akses operasi bagi pasien di luar Jawa menjadi tantangan tersendiri. Dengan kondisi tersebut, dorongan agar pemerintah memperkuat deteksi dini dan percepatan layanan operasi menjadi sangat relevan. Harapannya, tidak ada lagi bayi yang kehilangan nyawa hanya karena terlambat ditangani atau karena fasilitas yang tidak memadai.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar