PARADAPOS.COM - Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung secara resmi menetapkan gelombang panas ekstrem yang melanda negerinya sebagai bencana nasional. Keputusan ini diambil setelah suhu mencapai rekor tertinggi dalam 122 tahun terakhir dan menewaskan sedikitnya 19 orang. Dalam rapat kabinet pada Selasa, Lee memerintahkan seluruh jajaran kementerian untuk meningkatkan perlindungan bagi warga terdampak, termasuk memastikan pasokan listrik tetap stabil di tengah melonjaknya penggunaan pendingin ruangan. Badan Meteorologi Korea (KMA) mencatat suhu 42,5 derajat Celsius di Kota Yangsan, sementara peringatan gelombang panas untuk pertama kalinya dikeluarkan untuk seluruh wilayah ibu kota Seoul.
Situasi ini bukan sekadar cuaca panas biasa. Lee menyebutnya sebagai kondisi darurat yang membutuhkan respons cepat dan menyeluruh. Ia menekankan bahwa seluruh kementerian dan lembaga terkait harus bergerak sigap untuk melindungi keselamatan warga, terutama mereka yang paling rentan terhadap sengatan panas.
Kekhawatiran Durasi Panas yang Berkepanjangan
Yang membuat pemerintah semakin waspada bukan hanya tingginya suhu, tetapi juga potensi durasinya. Lee mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kondisi ekstrem ini kemungkinan besar akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi cuaca ekstrem ini sangat mungkin terus berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama," kata Lee, dikutip dari AsiaOne, Rabu, 5 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya perombakan besar-besaran pada sistem penanggulangan bencana nasional. Tujuannya jelas, agar Korea Selatan tidak lagi gagap ketika menghadapi fenomena cuaca serupa di masa mendatang. Ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang.
Rekor Suhu dan Peringatan Pertama untuk Seoul
Data dari Badan Meteorologi Korea (KMA) menunjukkan betapa ekstremnya situasi ini. Kota Yangsan di bagian tenggara mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada Minggu lalu. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pencatatan meteorologi modern dimulai 122 tahun silam, memecahkan semua rekor sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, KMA juga mengeluarkan peringatan gelombang panas untuk seluruh wilayah Seoul. Sebelumnya, peringatan hanya berlaku di sebagian ibu kota dan Provinsi Gyeonggi. Peringatan ini menginstruksikan warga untuk menghentikan semua aktivitas luar ruangan, mulai dari bertani, berolahraga, hingga bekerja di lokasi konstruksi.
Dampak Nyata di Lapangan: Warga Rentan dan Tunawisma
Gelombang panas ini memberikan pukulan telak bagi kelompok masyarakat yang paling tidak berdaya. Di Distrik Yeongdeungpo, Seoul, para penghuni jjokbang—permukiman rumah satu kamar berbiaya murah—merasakan dampaknya secara langsung. Cho Sang-yeon, seorang warga yang telah tinggal di kawasan tersebut selama hampir 20 tahun, mengaku belum pernah mengalami panas seperti ini.
"Saya belum pernah merasakan panas seperti ini selama tinggal di sini," kata Cho Sang-yeon.
Sebagian penghuni jjokbang memang telah dipindahkan ke hunian sementara yang dilengkapi pendingin ruangan oleh pemerintah. Namun, tidak semua warga bersedia atau mampu pindah. Banyak tunawisma yang masih memilih bertahan di jalanan, berisiko tinggi terkena serangan panas. Son Ki-young, warga lainnya, mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi mereka.
"Saya sedih melihat para tunawisma yang harus bertahan di jalan dalam cuaca sepanas ini," ujar Son Ki-young.
Di tengah teriknya matahari, petugas pemadam kebakaran dan pemerintah daerah terlihat menyemprotkan air ke jalan-jalan utama. Mereka juga berkeliling memantau kondisi warga yang berisiko mengalami gangguan kesehatan, berusaha mencegah jatuhnya korban jiwa tambahan.
Korban Jiwa dan Gangguan Aktivitas Nasional
Data resmi dari Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) mencatat jumlah korban meninggal akibat gelombang panas kini mencapai 19 orang. Dari jumlah tersebut, 13 korban di antaranya berusia 80 tahun atau lebih, menunjukkan bahwa lansia menjadi kelompok yang paling rentan. Sejak 15 Mei, tercatat 2.025 orang telah menderita penyakit terkait panas di seluruh Korea Selatan.
Cuaca ekstrem ini bahkan sampai mengganggu agenda olahraga nasional. Dua pertandingan bisbol yang dijadwalkan berlangsung di Seoul dan Gwangju pada Selasa terpaksa dibatalkan. Suhu yang terlalu tinggi membuat kondisi lapangan dan pemain tidak aman untuk bertanding, sebuah konsekuensi nyata yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Artikel Terkait
PLN Latih 250 Pelajar SMA Kelola Energi Surya dan Sampah Jadi Listrik
Menko Polkam Tegaskan Situasi Keamanan Nasional Terkendali di Tengah Maraknya Hoaks
Menkeu Sebut Dirinya Menteri Paling Tidak Beruntung, Hadapi Empat Guncangan Ekonomi Sekaligus
Polisi Masih Mendalami Penebangan 10 Pohon di Jalan Riau Bandung, Tersangka Belum Ditetapkan